Fan Fiction : Even Though I Already Know

Even though i already know

Author : AisyahNoer97 ǀ Main Cast : Kim Hyoyeon – Girls’ Generation, Lee Junho – 2PM, Doojoon – Beast ǀ Genre : Romance ǀ Length : Oneshoot ǀ Disclaimer :

cerita FF ini milik Author sepenuhnya! Mohon Jangan Copy-Paste!

`HAPPY READING`

Aku akan kembali seperti hari itu seperti saat itu saat kita saling bertatap muka dan melempar senyum. Aku akan di sini di sampingmu, menemanimu seperti saat itu saat kau menangis aku akan ada di sini. Aku akan kembali, aku pasti kembali..

Saat aku bisa melihatmu di ujung sana. Aku hanya bisa tersenyum lalu melambaikan tangan. Tapi kau masih tak bergeming. Bisakah kau melihatku? Aku di sini berdiri di sini. Aku sudah kembali, menepati janjiku. Janji kita Hyoyeonnie.

Kenapa kau diam? Di mana matamu? Arahkan kemari, ke tempat di mana aku berdiri Hyoyeonnie. Aku merindukanmu. Sudah berapa lama ini, aku ingin menyentuhmu, melihatmu tersenyum karena aku, menyapamu dan menggandeng tanganmu.

Air mataku sudah habis. Tapi harus berapa lama aku begini? Mengenangmu terus-menerus. Kau sudah hilang, tapi kenapa sakit ku masih ada di sini. Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah kelelahan dengan keadaan ini, Maafkan aku. Aku rasa aku ingin menyerah.

Hari demi hari ku jalani tanpa Junho-oppa dan aku hanya menghadapi kenyataan ini dengan merenungkan setiap kenangan di hari terakhir itu, hingga aku terlalu sering mengacuhkan orang lain. Aku tetap diam membisu tak mempedulikan mereka yang berlalu lalang di hadapanku. Setiap harinya aku berharap bisa menemukannya lagi di sini. Di dunia yang sama.

Aku sudah lupa ini hari ke berapa, minggu keberapa dan bulan keberapa. Bahkan sejak senyumnya itu tak pernah menghiasi hari-hariku aku hanya bisa menatap jam, berharap waktu bisa ku ulang.

Melihatmu begini aku sakit, bagaimana jika aku yang menjalaninya mungkin aku akan segera mati. Tapi beruntungnya aku baik-baik saja. Aku hanya perlu menjagamu agar kau tak sakit lagi. Itu akan lebih baik.

Aku tersenyum lalu diam, tersenyum dan diam kembali. Menatapimu setiap hari Hyoyeon. Duduk di atas meja restaurant dan bersangga tangan kanan. Tersenyum saat kau melayani pembeli dan diam saat kau mulai termenung. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Menemanimu dan mengawasimu dari jauh.

Saat kau menangis. Itulah yang menyakitkan. Bahkan saat kau ingin menyerah, aku sangat ingin menarikmu dalam pelukanku. Tapi aku adalah orang yang sadar diri. Kau bahkan tak ingin memandangku dengan baik.

***

Seoul at 9 p.m.

ommanim, aku pulang dulu. Tto beopkesseumnida.”

Di ambang pintu sesaat setelah Hyoyeon berpamitan dengan bibi pemilik toko. Seseorang tersenyum padanya dan menyapanya.

“Hyo, Anyeong.”

Tapi tak ada jawaban untuk itu. Hyoyeon melangkah pergi. membiarkan pria yang sudah menunggunya itu beku di depan pintu restaurant yang telah tutup. Tangannya yang melambai pada Hyoyeon perlahan turun. Kecewa nampak di wajahnya.

“Hosh..hosh.. kau berjalan.. cepat.. hosh.. sekali.” Ternyata Doojoon pria yang pantang menyerah. Ia mengejar Hyoyeon hingga terengah-engah. Dan bagaimana tanggapan Hyoyeon? Ia diam seperti orang bisu. Bahkan Hyoyeon tak menoleh sedikit pun. Sangat dingin, ia benar-benar wanita yang dingin dan angkuh. Senyuman kecut terurai di bibir Doojoon.

Hyoyeon terus berjalan. Doojoon sesekali menengok ke arah Hyoyeon dan tersenyum, begitu seterusnya hingga mereka sampai di depan rumah Hyoyeon. Rumah sederhana namun cukup besar untuk di tinggali seorang diri.

Hyoyeon pun segera masuk tanpa mempedulikan Doojoon yang sedari tadi cengingisan di sampingnya. Dan apa yang dilakukan Doojoon setelah itu? Ia celingukan tak jelas di depan rumah Hyoyeon. Seperti orang yang mendapat ide cemerlang, ia tersenyum bahagia dan memutuskan suatu hal.

Arraseo. Aku akan pulang. Tidur yang nyenyak!” Doojoon berteriak cukup keras. Tujuannya? Agar Hyoyeon mendengarnya.

Sedikit menoleh ke pintu rumah Hyoyeon yang sudah tertutup. Ia menghelah nafas dengan berat, langkahnya juga begitu berat untuk meninggalkan tempat itu.

***

Seoul in the morning at 8 a.m.

Ommanim? Anyeonghaseyo.”

“Kau datang tepat waktu Hyo.”

Oh! Mullonimnida.

Seperti biasa, sebelum restaurant buka, Hyoyeon membersihkan Setiap tempat mulai dari lantai, meja, kursi, dan kaca jendela. Ia melakukannya dengan telaten. And It’s Done, akhirnya selesai.

Uri sikdang-eseo Eoseo oseyo.”

Dengan pelanggan sifatnya memang ramah. Tapi lihat saat ia menatap siapa yang datang. Wajahnya yang dingin kembali muncul.

“Bisakah kau mendengarkan ku sebentar?”

Uri sikdang-eseo Eoseo oseyo.” Ucap Hyoyeon ramah kepada pelanggan, ia mengantar pelanggan ke kursi kosong.

 “ini penting Hyo!” Kata Doojoon dengan wajahnya yang begitu serius.

“Hyo! Dengarkan aku, Hyo!”

Doojoon terus bersi keras untuk berbicara dengan Hyoyeon, tapi apalah daya Hyoyeon malah mengacuhkannya dan ia juga sibuk dengan pelanggan yang baru saja datang.

“Menyu-ga yeogi isseumnida.”

“Jeo-neun jajangmyeon hagesseoyo.”

“Oh Ne. Tunggu sebentar.” Hyoyeon pun menunduk dan segera pergi ke dapur, memberikan note pesanan pelanggan.

“jumun-i yeogi isseumnida.” Ucap Hyoyeon sembari menaruh pesanan pelanggan. Ia pun pergi. namun saat di ambang pintu dapur ia melirik ke belakang. Doojoon masih duduk di sana. Ia pun kembali ke dapur.

Seoul at 5 p.m.

Lalu lalang pelanggan yang datang menghiasi restaurant tersebut. Dari pagi hingga sore, masih ada setidaknya satu atau dua pelanggan yang memesan makanan di sana. Jadi, jika dihitung-hitung sekitar 8 jam sudah Doojoon menunggu Hyoyeon tanpa makan dan minum. Apa tidak lelah ya? Tentu saja tidak. Melihat orang yang dicintai itu sangatlah tidak melelahkan bukan?

“Makan lah.”

Dan sebenarnya Hyoyeon adalah sosok yang cukup peduli pada orang lain. Hanya saja dia terlalu gengsi untuk memperlihatkannya. Wajahnya yang begitu dingin itu cukup berbeda dengan sikapnya.

 “Mwo?” Doojoon tersentak kaget saat Hyoyeon berdiri di sampingnya dan seporsi ramyun + air yang ada di atas meja. Ia menatap Hyoyeon kebingungan. Hyoyeon pun duduk di depan Doojoon dan menyodorkan ramyun tadi.

“Setidaknya kau harus makan dan minum.”

“Aku akan menemanimu makan.” Dan saat mengucapkan kalimat ini, Wajahnya Hyoyeon menunduk dan begitu kaku. Lalu bagaimana reaksi Doojoon? Ia tersenyum geli melihat tingkah Hyoyeon. Doojoon pun segera memakan ramyunnya sambil senyum-senyum tak jelas.

“Bagaimana perasaanmu saat itu?” Tanya Doojoon yang bibirnya masih dipenuhi dengan ramyun. Dan kenapa dia harus membuat orang lain yang sedang asyik dengan dunianya itu merasa terganggu.

Wae?” Hyoyeon mendongok ke arah Doojoon, sepertinya ia agak kaget dengan pertanyaan Doojoon.

“Saat itu, saat kita berdiri bersama di depan makam Junho. Bagaimana perasaanmu saat itu?” Tanya Doojoon lagi. Kali ini ia berbicara dengan jelas, matanya benar-benar mencari-cari jawaban itu. Menatap mata Hyoyeon dan menebak-nebak apa yang akan dikatakan oleh wanita di depannya itu.

“Bagaimana rasanya?” Doojoon kembali bertanya. Dan Hyoyeon menunduk, seakan ada sesuatu yang ingin ia ucapkan namun terhenti di pangkal tenggorokan, bagaimana hasilnya? Mata Hyoyeon menjadi memerah dan tangannya gemetar.

“Aku.. aku merasa ingin mati.” Jawab Hyoyeon terbata.

“Wae? Kenapa kau merasa begitu? Apa kau sangat mencintainya?” Tanya Doojoon penasaran.

“Kami selalu bersama. Aku berfikir aku lah raganya dan Junho-oppa nyawa dalam tubuhku, saat dia pergi, aku merasa akan mati. Saat aku mendengar dia sakit demam, aku malah terkena cacar air dan dia harus datang menjagaku. Aku selalu merasa bersalah karena.. “

“Bukankah dia sudah pergi? Wae?” sela Doojoon.

“Kau kan masih hidup! Wae?”

“Kau seharusnya tidak merasa bersalah bukan?” Sepertinya Doojoon tidak bisa membuat Hyoyeon tenang dengan pertanyaan beruntun seperti itu. Dia harus memberi kesempatan pada Hyoyeon untuk bicara.

“Aku merasa akulah penyebab kematiannya. Jika saat itu aku tidak memintanya membelikan obat untukku mungkin dia akan ada di depanku saat ini. Aku yang salah. Aku.. ”

Gomawo makanannya. Aku pergi.”

“Aku yang salah. Maafkan aku, aku menyesal.”

Terdengar suara Hyoyeon dari tulisan di buku catatannya.

Saat kau menggenggam tanganku, aku merasa akan mati.

Saat kau tersenyum padaku, aku merasa akan mati.

Saat kau menghapus air mataku, aku merasa akan mati.

Saat kau memeluk tubuhku, aku merasa akan mati.

Jadi meskipun aku sudah tahu, bersama atau tidak bersamamu aku tetap merasa akan mati.

‘Aku salah oppa’

Tetes demi tetes membasahi lembar catatan milik Hyoyeon. Malam itu, begitu suram jauh lebih suram dari biasanya. Angin berdesir tak bersahabat dan langit yang hitam mencekam. Di malam itu, Selamat malam Hyoyeon.

Pagi hari pun muncul bersama mentari yang sinarnya tak cukup menyinari celah jendela kamar Hyoyeon. Pagi itu hari agak mendung. Hyoyeon menatap Jendela, dan tiba-tiba angin berhembus membuka tirai jendela. Abu.

Terdengar suara Junho.

Meskipun aku sudah tahu aku telah menghilang jauh darimu.

Tapi di sini, aku masih merasa hidup meski aku mati.

Karena kau aku merasa hidup. Tak peduli jika jarak sudah tak bisa menyatukan lagi.

Hanya satu alasan aku hidup atau pun mati itu karena kau, hanya karena Hyoyeon.

Hyoyeon melamun. Terdengar suara bel rumah miliknya. Hyoyeon berjalan menuju pintu depan. Tak ada siapa-saiapa namun ia menemukan secarik kertas yang tergeletak di depan pintu. Pagi itu cukup dingin hingga Hyoyeon merapatkan cardigan tipisnya. Ia duduk di depan pintu dan membaca surat tadi.

Terdengar suara Doojoon.

Aku mencintaimu

Meskipun aku sudah tahu, aku ingin tak mempedulikannya.

Aku mencintaimu, sebanyak apapun aku berharap aku sudah mengerti.

Tapi tadi itu sangat menyakitkan, maafkan aku.

Aku tak punya alasan lagi untuk berada di dekatmu.

Meninggalkanmu mungkin cara yang tepat agar kau bahagia. Maafkan aku.

Ia memeluk kertas tadi dan air mata Hyoyeon mulai menetes, tubuhnya kembali merasakan dinginnya hembusan angin. Ia menatap langit abu.

‘Oppa, jika kau datang kembali

Peluk aku sekali saja agar aku tak menangis lagi’

The End

Iklan

4 tanggapan untuk “Fan Fiction : Even Though I Already Know

  1. Hiks kejam banget takdirnya hyoyeon (╥﹏╥)​
    Kenapa selalu angst ff yg castnya hyo ? Atau malah dia dibuat jahat ? Aaaaaaaaaa ga kuat ><
    Doojon akhirnya nyerah , kasian hyoyeon ga ada yg nemenin 😦
    Kembalikan junho biar bisa nemenin hyo eonni lagi
    Bangkitkan junho dari kubur (۳˘̶̀Д˘̶́)۳
    *plakkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s