You’re My Endless Love (Sequel Because Of You)

HyoHyuk_Cover_Anh_Zone

Author : Aisyahnoer97 ǀ Main cast : Eunhyuk Super Junior, Hyoyeon Girls’ Generation ǀ Other casts : Sooyoung Girls’ Generation, Sunny Girls’ Generation ǀ Genre : Sad, Romance ǀ Length : Oneshoot

Eunhyuk POV

Hari yang indah. Burung setiap pagi berkicau dengan kebahagiaannya. Puluhan burung merpati menyerbu biji jagung yang disebar oleh petugas taman kota. Pemandangan yang sudah biasa menghinggapi kota-kota di Eropa. Kau bahkan akan sulit menemukanya di tempat lain. Paris di  pagi hari. Dengan dingin yang masih menusuk-nusuk, sinar matahari yang masih setengah-setengah menyinari sudut-sudut kota. Ku rapatkan mantel tebalku. Meski bukan musim dingin, musim gugur cukup untuk membuatku menggingil semalaman.

Di hari-hari di mana kau hanya melihat mantel-mantel tebal berjalan dengan pemiliknya menyusuri tiap trotoar jalan. Berbondong-bondong namun pergi sesuai tujuan masing-masing. Menghabiskan hari di dalam ruang pengap yang hanya terisi dokumen-dokumen rumit yang membelit. Tak ada hari bebas di sini. Hariku selalu ku habiskan untuk bekerja dan bekerja. Ada saat di mana aku merasa jenuh dengan rutinitasku yang itu-itu saja. Tapi ini adalah cara satu-satunya untuk melupakan masa-masa berkabung yang sudah terlewati sejak satu tahun yang lalu.

Masa di mana aku masih terus meringsuk dalam kesedihan. Merasakan sesak yang begitu dalam saat harus menerima kenyataan bahwa Hyoyeon sudah pergi. di hari berikutnya aku mencoba tegar, tersenyum dengan alam, namun tak lama sakit itu menghujam tajam bak hujan yang tiba-tiba mengguyur bumi tanpa pertanda apapun. Rasa sepi yang selalu membelenggu saat aku merasa kehilangan, rasa lelah yang selalu membuatku frustasi dengan keadaanku sendiri. Hingga keputusan untuk meninggalkan Korea terlintas di pikiranku. Menghabiskan waktu di tempat yang mungkin bisa membuatku lebih baik, setidaknya bisa menjauhkan perasaanku dari rasa kehilangan itu.

Pagi yang dingin di Paris.

Tanganku ku masukkan ke dalam saku mantel karena pagi ini masih sangat dingin. Memang begitu, Eropa selalu dingin kecuali saat musim panas dan musim semi. Aku berjalan pelan melewati gerombolan burung merpati. Teringat bahwa burung merpati adalah hewan yang paling setia. Aku hanya bisa tersenyum pahit, betapa aku juga setia dengan rasa sakit yang terbawa dari masa lalu. Helaan napas panjang turun menyertai perjalananku menuju kantor yang tak jauh dari gedung apartment tempatku tinggal. Toko-toko kecil dan beberapa hotel kecil terhimpit oleh gedung-gedung pencakar langir yang hampir mendominasi kawasan kota Paris. Hari semakin siang, meski baru jam 8 pagi. Aktivitas pagi itu sudah cukup memadati jalanan kota Paris. Mobil padat merayap berhenti di lampu merah dan iring-iringan puluhan kaki manusia melewatinya. Setiap hari dan sangat menjenuhkan. Sebelum sampai ke kantor, aku memutuskan untuk berhenti ke sebuah café yang biasanya ku kunjungi saat jam istirahat atau saat aku hang-out bersama teman-teman di malam hari. Di sini mereka menyediakan minuman kesukaanku yang biasanya ku pesan saat bersama Hyoyeon, cappucino.

Suasana hangat langsung terasa setelah masuk ke dalam café. Menatap wajah-wajah yang baru bangun dari tidurnya, wajah-wajah pekerja keras, wajah-wajah segar, wajah-wajah sendu. Sendirian di pinggir jendela, sekilas teringat lagi seseorang yang selalu menemuiku di café tempatku bertemu dengan Hyoyeon. Di Korea, semua kenangan itu terbungkus rapi, tapi sayang,sebagian terlupakan dan mengikutiku hingga ke Paris. Seketika aku terlamun dalam memori kenangan kami. Dalam diam semua menyatu dan membentuk wajah-wajah sedih, bahagia, susah, senang lalu lama-kelamaan semua itu kabur seperti kabut asap yang perlahan lenyap. Seketika wajah wanita paruh baya berada di depanku, dengan tatapan hangatnya membawa pesananku. Aku hanya bisa tersenyum getir.

***

Waktunya makan siang. Ada beberapa files yang belum ku selesaikan tapi perutku tak bisa diajak komprosi. Aku melirik jam. Siang ini rencananya seorang sepupuku yang baru saja datang dari Korea akan menemuiku di depan gedung perusahaan. Ku raih mantel hitam dan handphone lalu ke luar ruangan. menyapa beberapa staf dan beberapa atasan. Meski ini Eropa, sama seperti Korea di sini juga ada tata krama setidaknya aku juga bisa menyesuaikan diri. Aku tertawa kecil saat melihat seorang anak baru yang baru direkrut oleh perusahaan salah tingkah melihatku. Abaikan, dia hanya mencari perhatian. Aku terus berjalan hingga di depan gedung. Menunggu sepupuku yang janji akan datang siang ini. kanan kiri, semuanya tampak sama serba hitam putih. Hari lebih cerah karena ini puncak sinar matahari memancar sempurna tapi di sini tak terjangkau sedikit pun rasa hangatnya. Aku mendesah, masih terasa dingin. Musim gugur, bukankah Hyoyeon suka musim gugur, tapi aku jadi membencinya saat di Paris. Itu dia, seseorang yang ku tunggu-Lee-Sunny-namanya.

Ia melambaikan tangannya. Bahkan sebesar itu dia masih suka pamer aegyo-nya. Aku tersenyum membalasnya. Eh, tunggu. Dia tidak sendirian, ada seseorang di sana. Seseorang yang tinggi semampai, rambut hitam yang tergerai indah, dan wajah yang lebih persis seperti orang melayu. Aku membungkuk sedikit, memberi salam.

Oppa, ini Choi Sooyoung. Temanku satu apartment.”

“Oh, jeongmal? Anyeong, aku Lee Eunhyuk. Bangapseumnida.”

Ne, ban-gabseumnida.”

Aku membungkuk sedikit, memberi salam. Ia hanya tersenyum. Keadaan bahkan terasa begitu canggung setelah perkenalan kami. Untungnya Sunny langsung mencairkan suasana dengan aegyo-nya. Ia menarikku naik ke dalam mobil, diikuti Sooyoung yang tersenyum geli melihat tingkah kekanak-kanakkan Sunny.

***

“Sunny.”

Ne?”

“Hentikan, kau sudah merencanakannya.”

Aku langsung beranjak dari dudukku lalu meninggalkan mereka berdua. Suasana ceria di depan menara Eifel seketika lenyap. Waktu seakan berhenti, bagaimana bisa Sunny menjadi penjelas alasan Sooyoung ke sini. Seakan aku tertimpa batu dari langit, beban kerinduan dan rasa bersalahku yang belum juga hilang, sulitnya hidup di kota besar seperti Paris, rasa sepi yang selalu menghampiriku, dan aku harus menerima seseorang yang bahkan baru ku kenal dua jam yang lalu. Oh Tuhan, bukankah kau tahu betapa besar rasa cintaku untuk Hyoyeon? Memori yang sedari dulu selalu ku bungkus dengan rapat di Korea itu bahkan robek dan terbawa hingga hari ini. Bagaimana bisa aku melepaskannya. Meski sakit, meski ini melelahkan, aku tak bisa melepaskan cinta seseorang yang bahkan mati karenaku. Itu terlalu kejam Tuhan.

Aku berjalan begitu pelan. Sesekali tertabrak oleh beberapa orang yang tergesa-gesa dengan urusannya masing-masing. Aku bimbang, entah bagaimana harus menyikapinya. Dengan tatapan tak fokus, redup dan semakin lama semua terlihat kabur dari tatapanku. Tak terasa air mataku menetes. Ku rapatkan lagi mantelku. Hari semakin sore, sudah pukul tiga sore. Mungkin beberapa orang di kantor mencariku untuk laporan yang mereka butuhkan. Aku tak peduli, semua itu sudah terhimpit dan terbang jauh bersama angin. Sekarang yang ada di pikiranku adalah bagaimana bisa ibuku memintaku untuk bertunangan dengan Sooyoung? Lalu bagaimana dengan Hyoyeon, wanita yang merelakan hidupnya demi merawatku.

Tak terasa. Aku merasakan sebuah tangan menyentuh bahu kananku. Aku menoleh, seseorang dengan wajah bersalahnya menatapku penuh harapan. Ia mendekat, refleks aku mundur. Dia tersenyum sedih, lalu terucap sebuah kalimat yang bahkan membuatku merasa begitu lega. Helaan napas setelah merasakan sesak itu. Ia kemudian berbalik, membelakangiku. Ada sedikit rasa bersalah pada diriku karena telah salah paham padanya. Aku menatap punggungnya, lalu beranjak melangkah pergi namun langkahku terhenti oleh perkataannya. Ucapannya yang bahkan mampu meluluh lantahkan rasa sesak yang beberapa hari ini menyelimuti perasaanku.

“Kau pria hebat, oppa.”

Aku tersenyum getir, baru menyadari bahwa aku sudah terkubur bersama masa lalu yang tak sengaja jatuh dan terbawa hingga ke Paris. Aku berbalik meninggalkannya sendirian. Meski ia tertarik padaku, mengagumiku sebagai pria yang hebat, aku lebih tertarik dengan Hyoyeon yang rela mati untukku, yang mau mengorbankan waktunya untukku hingga napas terakhirnya.

Angin berhembus, menyentuh pori-pori wajahku yang kini mulai merasakan dingin. Hari semakin gelap, dan aku hanya menghabiskan waktuku dengan melewati jalan trotoar.

***

Author POV

Satu minggu kemudian

Eunhyuk menikmati pagi di kota Paris bersama dengan Sooyoung. Wanita yang mencoba meraih hatinya, tapi kini wanita itu menjadi teman, tepatnya teman untuk berbagi cerita. Hampir setiap jam istirahat Sooyoung datang membawakan bekal, dengan keceriaannya Eunhyuk bisa cukup terhibur belum lagi Sooyoung-seorang yang humble-dan cantik itu cukup mudah untuk mengenal sesama rekan kerja Eunhyuk. Sooyoung bahkan tak pernah mengeluh ketika Eunhyuk yang setiap saat selalu menceritakan segala hal tentang Hyoyeon. Sooyoung dengan setia mendengarkannya meski terkadang ia sudah bosan bahkan terkadang menyakitkan Sooyoung. Tapi karena keikhlasannya untuk menjadi teman bagi si pria hebat itu, Sooyoung dengan senang hati membuka lebar-lebar mata dan telinganya untuk melihat dan mendengar perkataan Eunhyuk.

“Soo. Tadi malam aku memimpikannya.”

Jeongmalyo?”

“Dia sangat cantik. Memakai gaun putih, rambutnya terurai indah, dia tersenyum begitu lebar, dia sangat cantik.”

Geurogunyo.”

“Dia berjalan sendirian. Langkah kakinya sangat indah.”

“Kau tahu? Dia terus menatapku. Air matanya menetes, dia terlihat sangat bahagia, sesekali Hyoyeon menyeka air matanya, aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya dan.. Soo?”

“Ah ini, aku hanya terharu. Lanjutkan lah.”

“Dia melambaikan tangannya. Memanggilku dari kejauhan. Hyoyeon menunjukkan bunga mawarnya yang hanya setangkai. Dia sangat berbeda, sangat cantik. Dia berjalan mendekatiku, gaunnya sangat panjang. Tapi…. pandanganku semakin lama semakin tak jelas, dia semakin dekat tapi aku semakin tak bisa melihatku. Aku menangis.. aku benar-benar takut, dia terus saja tersenyum hingga dia tiba-tiba menghilang dan semuanya putih. Hyoyeon.. dia.. menghilang.”

Oppa..”

“Soo, aku merindukan.. Hyoyeon.”

Suasana tenang di atas gedung. Dalam keheningan, penuh kepedihan. Tangis Eunhyuk hanya terdengar begitu lirih, tangis keduanya tumpah saat Eunhyuk benar-benar tak kuasa menahan sesak di dadanya. Sesak yang telah ia tahan satu tahun yang lalu, kepergian yang memukulnya begitu dalam, Eunhyuk tak sekuat pria lain dia hanya pandai menutupi kenyataan. Sooyoung memahaminya, betapa menyakitkan sebuah perpisahan itu. Sooyoung benar-benar mengerti. Bahkan tak sejengkal pun ia berani memeluk Eunhyuk, sekali pun itu untuk menenangkannya. Sooyoung lebih memilih untuk diam. Membiarkan Eunhyuk untuk meluapkan rasa sakitnya sepuas mungkin.

Matahari yang menjunjung tinggi tepat di atas garis lurus menyengat kulit. Tak peduli bagaimana cuaca siang ini, Eunhyuk yang biasanya sibuk mengunyah sanwhich-nya di restaurant dan bercengkrama dengan beberapa teman kini hanya terduduk pasrah. Siang yang jauh menyakitkan dari malam yang menyiksa. Sooyoung terdiam, setelah Eunhyuk lebih tenang. Sooyoung mulai berdiri beranjak meninggalkan Eunhyuk sendirian. Ia menyentuh bahu ‘oppa’-nya itu, lalu menghilang di balik pintu.

Waktu berlalu begitu lambat. Malam yang menyiksa akhirnya datang. Tengah malam yang jauh menyakitkan pun datang. Membawa kenangan-kenangan menyakitkan itu lagi. Kerinduan yang menyiksa itu akhirnya menyatu. Malam ini, mungkin akan menjadi malam terberat. Setelah mimpi kemarin malam, semua terasa menyakitkan. Berapi-api sendiri dalam kesedihan, memukul-mukul diri sendiri dalam kesakitan.

Di ruangan yang jauh dari sinar kehidupan malam, hanya lilin kecil yang dihidupkan dekat tempat tidur. Eunhyuk terbaring dengan mata tertutup. Terselimut oleh memorinya bersama Hyoyeon. Mimpi yang sama jauh lebih menyakitkan itu kembali. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya. Wajahnya basah dan penuh kegelisahan, dahinya berkerut ketakutan. Tangannya mencengkram kuat selimut. Suara kegelisahan terus terdengar.

Sebulir air mata menetes pelan. Matanya perlahan terbuka. Ia menelan ludahnya sendiri. Menyadari mimpi buruk itu akhirnya kembali. jauh menyakitkan. Mimpi yang lebih jauh mendeskrispsikan bagaimana Hyoyeon kesakitan saat meninggalkan Eunhyuk. Mimpi yang begitu terlihat nyata itu, membunuh Hyoyeon.

Pagi yang masih berkabut. Jam baru menunjukkan pukul 5 pagi. Lampu yang sudah padam. Burung yang belum berkerumun di halaman taman kota. Gedung-gedung pencakar langit yang terlihat kokoh masih sepi. Baru satu dua tiga orang yang berlalu lalang. Seseorang yang masih terlelap setelah mimpi menakutkan malam tadi. Di balik selimut putihnya. Rambut acak-acakan dan wajah kusamnya. Ia menggeliat pelan lalu menatap jam. Helaan napas panjang setelah melewati malam yang suram.

Deringan nada pesan masuk. Dari Sunny.

From : Sunny

YA! Oppa! Sooyoung hilang! kau apakan dia,hah?!

Eunhyuk mengucek matanya. Memperjelas penglihatannya. Ia baca lagi sms Sunny. Sedetik kemudian, ia menguap lebar. Tiba-tiba matanya terbelalak baru tersadar melihat nama Sooyoung disebut. Hilang! Eunhyuk langsung lari ke kamar mandi kemudian berganti baju. Ia bahkan tak sempat untuk merapikan rambutnya yang berantakan. Hanya asal mengambil pakaian dan memakai sepatunya. Ditariknya mantel tebal di dekat pintu apartmentnya. Secepat mungkin ia menuruni tangga. Sesekali menatap jam. Waktu baru menunjukkan jam 6 pagi. Tapi sepagi ini, ia sudah kelabakan setelah mendapat sms dari Sunny.

Baru kemarin Eunhyuk bertemu dengan Sooyoung, baru kemarin juga Eunhyuk baru menyadari betapa Sooyoung sangat baik. Sayang, Sooyoung bertindak lebih cepat. Menyadari bahwa posisinya sama sekali tidak diinginkan oleh Eunhyuk, tapi bukan itu Eunhyuk justru dengan sukarela menerima Sooyoung. Meski hanya sebagai seorang teman, teman berbagi cerita. Walau memang terkadang Eunhyuk cenderung tak memberi Sooyoung untuk bercerita, tapi bukan itu maksudnya. Ini adalah kesalahpahaman.

Ia melirik jam lagi. Lalu terdengar bunyi klakson yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah mobil berwarna putih telah menunggu Eunhyuk di sana. Itu Sunny. Ia melambaikan tangannya.

Eunhyuk langsung melompat ke dalam. Pemandangan pagi ini benar-benar buruk. Wajah Sunny tertekuk dengan mata melotot ke arah Eunhyuk. Ia bergidik ngeri melihat Sunny yang penuh dengan aegyo tiba-tiba berubah menjadi singa ganas.

“Sooyoung eodieyo?”

“YA!! OPPA!!”

Eunhyuk langsung mengelus kedua telinganya. Menghela napas sejenak lalu menatap Sunny penuh keheranan. Tiba-tiba Sunny langsung menancap gas. Eunhyuk terpental ke depan seperti terdorong dari tebing tinggi. Eunhyuk mengelus dadanya. Lega. Dalam hati pasti ia sudah mengumpat sepupunya itu.

“Hyoyeo..”

“YA!! OPPA!!”

“SUNNY!! Jebal, jangan mencari Sooyoung lagi. Lupakan! Bahkan jika aku mati tak ada yang bisa menggantikan Hyoyeon. Dengar itu!”

OPPA!!”

Eunhyuk langsung keluar dari mobil Sunny. Membanting keras-keras pintu mobil. Berjalan begitu cepat dengan napas terengah-engah. Kini pikirannya hanya terfokus pada Hyoyeon. Wanita yang ia cintai, wanita yang telah meninggalkannya sejak setahun yang lalu.

***

Matahari semakin terik, membuat siluet indah di kaca-kaca gedung. Tapi sayang Eunhyuk tak bisa melihat keindahan itu. Ia masih sibuk dengan pikirannya. Waktu-waktu yang ia habiskan di Paris. Satu tahun lamanya. Tapi semua tetap sama. Kebersamaan bersama Hyoyeon, kebahagiaan bersama Hyoyeon. Ia merindukan semua itu. Yang kini malah ia coba untuk memendamnya. Dia pasti merasa begitu bodoh karena telah membohongi perasaannya sendiri.

Eunhyuk menghela napas begitu panjang. Mendesah begitu berat. Tak henti-hentinya ia menatap jam. Berharap hari cepat berlari. Tiba-tiba ia teringat sesuatu lalu dengan tergesa-gesa Eunhyuk meninggalkan ruang kerjanya.

***

Korea, 22 September 2013

Di bandara internasional Incheon.

Suasana bandara telah ramai, beberapa jadwal penerbangan siap take off dan ada beberapa penerbangan yang telah mendarat di bandara. Salah satunya pendaratan pesawat dari Paris-Seoul, Korea Selatan.

Di tengah kerumunan banyak orang, seseorang dengan pakaian serba hitam dan kaca mata hitamnya baru saja datang dari penerbangan yang ia lakukan sore kemarin. Ia menarik koper hitamnya. Sesaat ia menghentikan langkahnya, lalu dibukanya kaca mata hitam miliknya. Eunhyuk telah kembali. bermodalkan tekad, ia memberanikan diri untuk kembali ke Korea Selatan. Dengan tekadnya melawan segala kenangan buruk dan rasa bersalahnya ia kembali, demi Hyoyeon. Ia kembali.

‘Maafkan aku menjadi pengecut. Aku takkan mengulanginya Hyoyeon. Aku akan terus di sampingmu. Saengil Chukkahae.’ Batin Eunhyuk. Tak lama ia tersenyum simpul. Eunhyuk pun meninggalkan bandara dengan menggunakan taksi.

Scane berubah menjadi langit Korea yang begitu cerah siang itu. Awan putih bersih yang bergerak berubah-ubah bentuknya menghiasi langit biru. Sesaat, muncul gumpalan awan yang membentuk senyuman.

The End

Thank you for reading!

Mianhae kalau ceritanya kurang baik. And Please don’t be silent reader, so R&R ya!!

Iklan

2 tanggapan untuk “You’re My Endless Love (Sequel Because Of You)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s