I Miss You – HaeSica Version

Author : Aisyahnoer97

Main Cast : Donghae Super Junior, Jessica Girls’ Generation

Other Cast : Taecyeon 2PM

Genre : Sad, Romance

Length : Oneshoot

Disclaimer :

cerita FF ini milik Author sepenuhnya! Mohon Jangan Copy-Paste!

N/A : I AM COME BACK!! Kali ini saya bikin ff version buat I Miss You. Soalnya suka sma drama Park Yoochun-oppa. Trus ting! Jadi deh ni ff. Gak bisa bertele-tele.lngsung deh! Check it 😀

`HAPPY READING`

Dear Diary….

Hari ini aku melanjutkan perjalananku. Di mana dia takkan pernah kembali. Tanpa harapan lagi tanpa genggaman tangannya lagi. Hari ini aku berjalan sendiri. Di atas altar tanpanya lagi. Pria angkuh tapi macho yang setiap hari selalu menyuruhku untuk istirahat. Memilihkan bunga yang indah dan wangi lalu menyelipkannya di belakang telingaku. Pria yang suka melihatku tertawa dari pada tersenyum, pria yang suka memanjakanku dari pada melihatku bekerja, pria yang suka mengusap dahiku dengan pergelangan tangannya, pria yang selalu berkata “suatu saat kita akan punya rumah besar, mobil mewah, dan pakaian yang bagus”. Tanpa harapan sedikit pun semua hilang. Di depan semua orang aku mengikrarkan janji seumur hidup dengan pria lain. Meninggalkan pria itu sendirian. Setidaknya orang di sampingku jauh lebih tampan dan lebih mapan. Bersama orang lain setidaknya aku masih memiliki harapan.

Air mataku kini tumpah. Ciuman pertama kami sejak enam bulan berkenalan, saling adu tatap tanpa berani melanjutkan apa yang kami harapkan, saling berbagi kenangan, menghabiskan senja bersama. Enam bulan yang indah. Setiap kali bertemu, mata itu selalu tersenyum jauh sebelum aku tersenyum padanya. Berkata ‘aku mencintaimu’ berulang kali. Enam bulan dan satu hari yang mengubah hidupku. Tanganku terkepal. Entah mengapa sakit itu runyam beradu dengan kebahagiaan yang tumpah dalam pikiranku. Kenangan enam bulan sebelum ini, bertahun-tahun yang lalu sekejap terlintas di sini. Bercampur dengan kebahagiaan.

Mata itu. Yang selalu tersenyum denganku. Tuhan, benarkan ini? aku sudah menikah. Dengan pria ini, yang selalu berkata ‘aku mencintaimu’ pria yang selalu menabur benih-benih janji suci itu kini menepatinya. Hari ini, kami disatukan entah oleh takdir atau kenyataan. Lihat, tangannya yang besar dan halus terulur untukku. Tangan yang selama enam bulan ini selalu menggenggam erat tanganku. Melindungiku dari kenyataan bahwa aku bukanlah harapan bagi orang-orang di sampingnya. Tapi pria ini, tanpa gentar dia selalu berada di depanku seperti tameng pelindung bagiku. Pria ini, sekarang tersenyum padaku membawaku ke tempat yang lebih baik. Bukan, tapi tempat yang jauh lebih pantas untukku. Bukankah aku adalah seorang barbie yang tersungkur ke perkampungan kumuh di pinggiran Seoul. Tapi kini pria ini membawaku ke tempat di mana segalanya bisa ku miliki. Bukankah sangat sempurna? Dia bahkan rela memberikan apa-apa yang selalu aku inginkan tak pernah menolak tak pernak ingkar semua selalu diberikan. Bukankah dia sangat baik? Tapi kenangan itu enam bulan sebelum ku kenal pria ini, kenangan yang melelahkan, kenangan yang mengubur jauh-jauh mimpiku kini terbang bebas di pikiranku.

“Sayang..” suara indah itu, lirih sekali. Aku bisa mendengarnya membuat ku terbangun dari lamunan panjang. Mataku berkerjap-kerjab saat melihatnya tersenyum padaku. Oh Tuhan, betapa beruntung aku memilikinya. Gugup. Aku Hanya bisa menatap ke depan tanpa berani lama-lama menatap matanya yang hangat. Kami melangkah beriringan, di luar sudah ada sebuah mobil mewah menunggu. Apa lagi? Suami yang tampan dan kaya, setia pula, bukankah itu sangat indah. Aku hanya bisa tersenyum memaksakan hati agar juga tersenyum. Menyambut tangannya yang sedari tadi sedia terulur hanya untukku.

Di pinggir pantai nan eksotis, di pulau terindah se-Korea Selatan, Pulau Jeju. Pulau yang menyajikan keindahan, kedamaian, dan kehangatan. Hari pertama di sini seperti sebuah mimpi. Dari dulu pulau Jeju selalu menjadi tempat pertama dalam daftar harapanku jika suatu saat aku sukses. Impian itu akhirnya terwujud, apa lagi? melihat pegunugan yang berjuntai hingga menembus gumpalan awan putih, deburan ombak yang menghantam jurang karang, berdebur bersama angin, suara alam yang selalu bernyanyi bersama burung-burung di langit cerah. Apa lagi? Bukankah itu lebih dari cukup untuk bahagia? Aku hanya bisa menerima kenyataan. Keputusanku selama ini sudah merubah takdir. Apapun itu menerima adalah satu-satunya jalan. Bersama pria itu aku juga takkan bahagia, mimpiku juga akan terus terpendam dan mungkin akan membusuk. Dengan Ok Taecyeon lah takdirku, pria yang bisa memberikan segalanya. Ya, aku sudah benar kan Tuhan?

Betapa sempurna hidupku. Tapi kenapa kau selalu membayanginya? Aku tak pernah menginginkan kau hadir lagi. Membubukan benih itu. Kenangan, tangisan, rasa lelah, lapar, ambisi dan mimpi yang dulu kau buat. Jangan lagi. Semua sudah ku kubur jauh. Tapi waktu enam bulan bukan waktu yang cepat untuk melupakanmu. Melewatkan hari pertama saat aku meninggalkanmu begitu menyakitkan. Menutup rapat-rapat perasaanku. Ini tetap menyakitkan.

Neo? A, mianhae tidak membangunkanmu.”

Gwaenchana. Kajja kita makan.”

“A, Ne.”

Setelah Taecyeon menghilang di balik tirai. Ia masih termengu di tempatnya. Pikirannya tidak ada di tempat ini tapi jauh di Chunju, desa tempat Donghae tinggal. Wajah dinginnya berubah menjadi raut kesedihan. Perlahan air matanya menetes. Masa-masa sulit yang telah ia tinggalkan itu justru membuatnya tersiksa. Jessica semakin terisak saat mengingat kenangan manisnya bersama Donghae. Di rumah yang sederhana dengan keadaan yang apa adanya ia justru bisa bahagia menikmati kehangatan di rumah yang kecil. Jessica menoleh ke jendela. “Rumah ini sangat dingin, Donghae-ya.”

***

Arra, geureom ga!”

“Ne?”

Ga! Ga! Ga!”

“Kenapa kau mengusirku,hah? Oneul.. uri abeoji saengil!”

Geurae, wae?”

“YA!! OPPA!!”

Donghae langsung melempar palunya. Menutup pintu rumahnya dengan keras. Meninggalkan adiknya menangis sendirian di luar. Terisak sendiri di tengan terik matahari yang begitu menyengat kulit. Donghae mendesah, terasa sesak, hingga rasanya tak bisa bernapas. Betapa canggung dia dengan adiknya, bahkan ia tak bisa menunjukkan perasaan yang sebenarnya. Ia mendesah keras.

“YA!! ULJIMA!!”

Mworago?”

Uljima. Geureom.. kajja, ga.”

Eodi?”

Uriabeoji saengil.”

KAJJA!”

Begitu canggung. Keluar rumah dengan membuka pintu dengan keras dan berkata “Uljima!” Dengan nada tinggi dan penuh kekesalan. Betapa canggungnya pria ini. heh.

Appa, aku membawa oppa. Bagaimana ini? Pacarnya sudah pergi.”

“Ya! Wae..”

“Aku sedih abeoji. Dia ternyata seorang pengkhianat. Bagaimana dia meninggalkan kami, banting tulang sendiri. Aku dengar, orang itu.. dia.. dia.. dia menikah abeoji.”

Seketika suasana menjadi begitu hening. Hembusan angin terasa hingga pelipis. Dingin yang begitu menusuk. Sesaat, samar-samar suara isakan adik Donghae mengisi keheningan.

Donghae mengela napas panjang. Melepas sesak yang terus mengisi sekujur tubuhnya. Pikirannya campur-aduk. Semua kesedihan seakan bersatu untuk menghancurkannya. Matanya yang pilu kini sudah memerah dan perlahan air matanya membasahi pipi. Ia mencoba menahannya, namun isakan Lee Sunkyu, adiknya membuat ia tak henti-henti mengeluarkan air mata. “Jessica-ya, bisakah kau menghapus memori burukku?”

***

(after 6 months)

Mianhamnida. Ada surat untuk anda.”

“Oh? Na? Ne, Gomawoyo.”

Jessica menatap lekat-lekat surat itu. Tak ada nama pengirimnya. Hanya ia mengenal siapa penulis surat tersebut. Ia hanya bisa menghela napas. Tersenyum sinis.

Jessica-ya. Aku sudah punya rumah bagus, mobil baru, dan makanan lezat. Jadi cepatlah pulang, aku menunggumu. Aku merindukanmu seperti orang gila, memikirkan bagaimana keadaanmu, apa kau tidur dengan nyenyak, apa kau makan dengan cukup, apa kau hidup dengan baik. Mungkin aku tidak sekaya suamimu tapi aku bisa menghidupimu dengan baik. Kembali lah, Jessica-ya.

Hanya tinggal kenangan. Harapan itu benar-benar telah di pendam. Jessica, dengan menahan tangisnya berjalan ke luar. Menenangkan hatinya kembali. Betapa sesak rumah ini, padahal rumah itu begitu besar. Dengan pemandangan yang indah dan udara yang begitu sejuk, namun hati Jessica masih merasakan sakit. Sakit yang tak bisa didefinisikan dengan kata-kata. Kenangan itu akhirnya menggoyahkannya. Keteguhan yang baru ia bangun selama enam bulan bersama Ok Taecyeon-suaminya kini dengan cepat memudar.

Kehangatan, kebahagiaan, kebersamaan yang selalu ia rindukan. Tidak, rumah yang jelek, lumpur yang mengotori halaman, dan terik sinar matahari, ia merindukannya. Bukan ini, kehampaan dan kesepian. Ok Taecyeon memang mencintainya, lebih dari siapa pun ia adalah suami terbaik. Tetapi, waktu untuknya adalah uang baginya. Cara membahagiakan Jessica adalah dengan uang. Setiap hari mengecup kening istrinya lalu pulang setelah Jessica terlelap. Begitu seterusnya. Betapa keteguhan bisa dengan cepat goyah setelah melihat janji-janji kehidupan yang jauh lebih indah dari ini. Jessica hanya bisa menunduk, merasakan bahwa seluruh keputusannya salah. Semuanya salah.

Ia menatap langit, hari ini mendung. Hatinya pun juga sedang mendung. Tak lama rintik-rintik air hujan turun ke bumi, membasahi daratan dan dedaunan kering. Awan abu datang menyapu sinar matahari yang tadinya bersinar terang.

“Donghae-ya.”

Flashback On

Di sebuah rumah kecil dengan pekarangan tandus dan kotor karena terkena kotoran ayam. Suasana pagi yang masih berkabut di dekat lembah pegunungan. Sebuah pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Di sana tinggal seorang pria dan wanita dewasa dengan seorang anak perempuan. Pagi ini suasana rumah itu terasa begitu ramai karena pertengkaran Donghae dengan adiknya-Lee-Sunkyu yang memperebutkan jatah makan daging. Makhlum di Korea harga daging sangat lah mahal, jadi akan sulit bagi orang susah seperti mereka untuk makan daging.

Pagi ini suasana hati Donghae benar-benar tidak baik, setelah pertengkarannya dengan adiknya, Jessica-kekasihnya malah semakin membuatnya marah karena tidak menyiapkan makan. Waktu baru menunjuk pukul tujuh pagi, tapi Donghae sudah sibuk ke sana ke mari hanya untuk mengambil peralatan bertani. Pagi ini, rencananya ia akan membantu salah seorang warga untuk memanen padi di sawah setelah itu ia bisa mendapat upah. Tapi dengan keadaan emosi seperti itu biasanya Donghae akan mogok makan.

“Donghae-ya, kenapa belum berangkat?” tanya Jessica dari belakang, ia membawa bungkusan kain. Jessica menghampiri Donghae dan duduk di sampingnya. Donghae memalingkan wajah, wajah musamnya terus terpampang jelas. Ia bahkan mengacuhkan Jessica yang dengan lembut menyerahkan bungkusan tadi untuknya.

“Ya, wae? Kau marah?”

Nugu? Ani!”

Jawab Donghae cuek. Ia kembali memalingkan wajah.

Seseorang di balik pintu melihatnya. Ia tersenyum jahil. Si Sunkyu-adik Donghae menghendap-endap dari belakang. Lalu seketika ia menyaut bungkusan yang dibawa Jessica. Jessica berteriak memanggil-manggil Sunkyu agar berhenti. Donghae ikut-ikutan berteriak. Ia memandang wajah Jessica penuh kebingungan. Donghae malah berlari kesana kemari seperti orang bingung. Jessica jadi panik sendiri, ia menarik Donghae dan menunjuk arah Sunkyu kabur. Donghae melongo, lalu seperdetik ia lari ke arah tadi dengan lari yang tersendat-sendat.

Jessica menatap kepergian Donghae. Sesaat ia tersenyum geli. Kemudian ia berbalik dan masuk ke dalam rumah.

Flashback Off

The End

Maaf Chingu ceritanya kurang menarik. emang sengaja aku gantungin gitu. semoga kalian suka.
jangan lupa Comment ya !!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s