You Are My Everything

 

Author : Nurisya

Main Cast : Kris EXO, Jessica Girls’ Generation

Genre : Sad, Romance

Length : –

N/A : Cast sepenuhnya milik keluarga mereka. Cerita sepenuhnya milik author. Sekilas saja ini adalah fan fiction ketiga yang memakai Jessica sebagai main cast-nya. Semoga kalian suka.

 

‘HAPPY READING’

 

Sepasang kaki melangkah pelan. Suara decitan tangga yang telah rapuh pun terdengar di keheningan malam itu. Jam sudah menunjuk tepat pukul 12 malam. Tapi sosok itu belum merebahkan tubuhnya. Penginapan yang sedikit pencahayaan, hanya sinar bulan yang menembus tirai-tirai jendela. Angin yang berhembus pelan menusuk tubuh sosok itu. Ia merapatkan jaketnya yang tipis. Langit-langit yang bercawang, lantai berdebu, dan tembok yang sudah kusam semakin menambah aura mistis di penginapan tua tersebut.

Sosok itu terus saja menanjaki tiap anak tangga, begitu pelan hingga langkahnya tak terdengar. Dengan sabar ia melewati tiap pintu, angin berhembus begitu kencang. Tepat ketika sosok itu berada di dekat jendela yang masih terbuka, wajahnya tertutup oleh tirai jendela putih nan tipis yang terhembus angin. Diraihnya tirai itu, lalu ia menoleh keluar jendela. Wajah yang pucat dan tatapan kosong membuatnya terlihat seperti sosok yang tak punya harapan hidup. Sosok itu kembali berjalan beberapa langkah. Langkah pelannya terhenti tepat di depan pintu yang sudah lapuk dimakan rayap. Nomor 18. Terterap di muka pintu. Sosok itu menunduk, seakan keraguan datang membayanginya untuk membuka pintu. Diambilnya sebuah kunci berwarna perak dari saku jaketnya. Angin kembali berhembus malam itu. Malam yang lebih dingin dari hari-hari biasanya.

Ia kembali merapatkan jaket tipis miliknya. Setelah keadaan kembali tenang, sosok itu memasukkan kunci tadi ke lubang kunci yang ada di bawah ganggang pintu.

Ceklek!

Pintu pun terbuka. Angin mendorong pintu itu terbuka lebih lebar namun sosok itu masih terdiam di depan pintu. Keraguan kembali mengusiknya. Dengan pelan, akhirnya ia melangkah masuk ke ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar tidur. Tidak ada perbedaan yang cukup menonjol dari kamar itu dan tempat penginapan. Semua terasa mencekam dan gelap. Tidak banyak perabotan, hanya ada beberapa box dan lemari yang menghiasi kamar tersebut tak terkecuali sebuah kasur dan meja belajar.

Sosok itu menghidupkan lampu kamarnya, ia menatap dinding yang sudah lapuk. Tapi tidak. Matanya yang kini terlihat memilukan sedang menatap sebuah bingkai foto sepasang kekasih yang terlihat bahagia. Di foto itu mereka tersenyum bahagia dengan mengenakan pakaian yang sama dan background taman yang indah. Sosok itu terus saja menatapinya, tapi kemudian ia berbalik dan mematikan lampu kamarnya. Dalam kegelapan, ia melangkah pelan dan mulai berbaring di atas tempat tidur. Ia menutup matanya, tapi kemudian ia membuka matanya. Mungkin kantuk tak juga datang pada dirinya. Ia kembali memejamkan matanya, dan kembali membuka matanya. Jessica, namanya Jessica. Ia teringat lagi kejadian malam tadi.

 

*Flashback On*

Di sebuah gang yang cukup kecil, di sana ada sepasang pria dan wanita yang terlihat terlibat pembicaraan serius. Seorang pria dengan wajahnya yang tampan, penampilan yang maskulin terlihat menatap seorang wanita yang hanya bisa menundukkan kepalanya. Di antara keheningan terdengar suara isakan tangis yang datang dari wanita tersebut.

“Kita harus mengakhiri ini semua. Aku tahu kau terluka, tapi kita harus berhenti sampai di sini. Bagaimana pun juga aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka dengan orang tua. Jadi, aku harus mengorbankan perasaanku. Ku harap kau mengerti noona.”

“Kri, kris..” Ucap wanita tadi agak terbata karena tangisnya yang tak juga berhenti. Ia terus saja menunduk tanpa berani menatap pria yang ada di hadapannya. Pria yang selama ini selalu mencintainya.

Pria itu hanya bisa menatap rambut Jessica. Tangannya terulur ingin menyentuh rambut kekasihnya tapi ia mengurungkan niat dan hanya bisa berpasrah diri. Ia menatap lampu yang ada di pinggir gang. Kris menghelah nafas, merasakan bahwa mungkin Jessica seperti sebuah bola lampu. Saat lampu itu tak mendapat energi lagi, maka perlahan-lahan lampu itu akan mati. Dan dirinya, Jessica yang dingin dan pendiam menjadi seorang yang ceria dan bersemangat karena bersamanya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana Jessica tanpa dirinya, ia kembali menatap wanita itu dengan tatapan kasihan.

“Bola lampu. Jangan menjadi bola lampu, biar pun aku pergi kau harus seperti bintang. Bintang bersinar terus meski ia tak memperoleh apa-apa. Aku berharap kau bisa menjaga dirimu dengan baik noona.”

Itu adalah kata-kata penyemangat untuk Jessica. Tapi wanita itu tetap menundukkan kepalanya tanpa sedikit pun mau mengangkat kepalanya dan menatap kekasihnya yang sudah meneteskan air mata.

“Jaga dirimu baik-baik noona. Aku mohon, bahagialah tanpa aku. Meski sakit, bertahanlah noona.”

“Semoga.. kau baik-baik saja.”

“Aku akan baik. Noona.. selamat tinggal.”

Kini wanita itu menatap Kris. Air matanya masih menetes. Senyuman pahit di bibirnya dan wajah pucatnya, menandakan dia tidak baik. Kris tersenyum, tangannya melambai pelan lalu ia berbalik membelakangi seorang wanita yang ia cintai di bawah cahaya lampu. Ia mulai melangkah menjauhi Jessica yang masih terdiam. Suara langkah kakinya terdengar hingga samar-samar dan akhirnya benar-benar lenyap dalam keheningan.

Jessica menatap pedih kepergian Kris. Tubuhnya yang lemah pun terjatuh. Kini ia bisa meluapkan rasa sakitnya sepuas hati. Ia menangis begitu keras pertanda hatinya memang benar-benar tersakiti. Tubuhnya yang terjatuh di atas tanah berbatu tak merasakan sakitnya. Mungkin sakit itu tak sebanding dengan sakit yang ada di hatinya. Ia menunduk menatap tanah kasar berbatu. Lalu ia mengangkat kepalanya dengan wajah dingin.

*Flashback Off*

 

***

 

Wanita itu kini terdiam di atas tempat tidur. Ia menoleh pelan ke samping dan menatap sebuah album foto. Ia meraih album foto tersebut dan membuka setiap lembarnya.

Tatapannya terhenti pada sebuah foto yang di sana terlihat foto dirinya dengan Kris yang sedang membawa permen kapas dan rangkaian bunga berwarna-warni. Di bagian bawah tertulis ‘One year Our love’. Ya itu adalah foto perayaan ulang tahun hubungan Jessica dan Kris. Foto itu diambil tahun 2009 dan kini sudah memasuki tahun 2014.

Jessica terdiam dan berfikir bahwa tanpa Kris pasti tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang itu. Tapi, tangannya yang gemetar saat membuka lembar berikutnya menandakan ia tidak seperti apa yang difikirkan. Wanita itu begitu lemah, melihat foto kedua saat ia bersama Kris di acara kelulusan Kris. Ia kembali berfikir jika Kris tanpanya juga tidak apa-apa, maka dia juga tidak perlu terluka untuk itu. Tapi ia lupa, bukankan ia dijuluki ice princess sebelum pria itu datang ke dalam hidupnya, lalu Kris datang dan membuatnya menjadi wanita yang ceria dan bersemangat. Jika bukan karena Kris, dia tetap menjadi wanita dingin. Dan kini wanita dingin itu kembali datang. Tapi tidak, Jessica sudah lebih rapuh. Berkata bahwa ia baik-baik saja itu bohong, ia teringat saat pertama kali bertemu dengan Kris.

 

*Flashback On*

Di sebuah taman kota yang terletak di Seoul City. Seseorang sedang serius membaca sebuah buku tebal yang isinya hanyalah tulisan-tulisan yang sulit untuk di pahami. Sosok itu adalah Jessica. Ia menatap sekelilingnya, hanya ada satu dua orang yang berada di taman. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi dan saat itu adalah hari senin. Biasanya orang Seoul sibuk dengan pekerjaannya atau sebagian lagi sedang mengikuti pelajaran yang ada di sekolah. Namun berbeda dengan Jessica. Ia memilih untuk pergi jalan-jalan dan membaca buku seperti itu.

Ia adalah seorang mahasiswa di Sungkyunkwan University, tapi sifatnya itu bukanlah cerminan mahasiswa teladan di universitas-nya. Ia dikenal cenderung dingin dan tidak bersahabat, ia juga seorang pembangkang, maka dari itu ia pergi meninggalkan kampus dan memilih belajar di taman. Tempat yang seharusnya menjadi ruang rekreasi dan berkumpul bersama keluarga maupun teman.

Tak lama, Jessica menutup bukunya. Ia mengedarkan pandangannya. Menatap air mancur yang menyembur tinggi ke angkasa. Tapi di wajahnya tak ada ekspresi apapun, entah itu ekspresi kagum maupun bahagia, wajahnya begitu dingin.

 

Jessica memejamkan matanya lalu menyandarkan tubuh kurusnya di sandaran kursi. Sesaat ia merasakan sejuknya udara pagi, namun seseorang mengagetkannya. Orang itu ternyata seorang pria. Dengan senyuman manisnya ia menyapa Jessica yang terdiam menatap pria tadi. Jantungnya tiba-tiba berdeguk begitu kencang ‘tuhan malaikat dari mana ini?’ batinnya.
Anyeonghaseyo, Kris imnida. Neoreul Nugusehyo?”

Suasana hening sesaat..

Jessica masim terpaku menatap Kris. Pria itu tersenyum kembali, menyadari bahwa Jessica terpesona olehnya. Kris pun duduk di samping Jessica, ia terus saja tersenyum saat melihat Jessica masih membeku dengan matanya yang bulat. Kris terkekeh, ia mendekat ke arah Jessica. Lalu membisikkan sesuatu.

“Kris imnida.” Bisiknya pelan dengan nada menggoda. Jessica bergidik dan segera bangun dari lamunan panjangnya. Ia menoleh dan betapa kagetnya ia melihat pria itu berada di sampingnya.

Kris kembali terkekeh. Sesaat, ia menatap Jessica dengan lembut. Lalu mendaratkan ciuman di jidat Jessica.

“Aku sudah mencintaimu sejak lama.”

*Flashback Off*

 

Sejak saat itu, sejak kata cinta itu terucap mereka berdua saling mengisi. Mencintai satu sama lain, saling menerima dan memberi dukungan setiap satu dari mereka ada dalam kesusahan. Cinta mereka terlihat indah di depan tapi ada begitu banyak cobaan yang harus dihadapi hingga akhirnya kisah cinta itu harus berakhir dengan cara yang menyedihkan.

 

Jessica bergidik. Mencoba melupakan setiap kenangan yang ia buat bersama Kris, namun setiap kali ia mencoba menghapus kenangan itu akan datang bertubi-tubi. Air matanya tak dapat lagi dibendung, saat ia teringat kata cinta dan hembusan nafas Kris yang dulu selalu menghiasi harinya. Kini semua itu telah hilang oleh waktu. Hanya tinggal kenangan, kenangan indah yang akan menyakitinya.

Jika mungkin cinta itu sudah hilang. Tidak dengan cinta milik Jessica. Perasaan itu akan tetap abadi, bagaimana berubahnya keadaan itu akan tetap ada di sana, di hati kecilnya.

Malam itu, menjadi malam terkelam bagi seorang Jessica. Seorang wanita dingin yang ditinggal oleh orang yang sangat ia sayangi, Kris.

 

***

 

Pagi hari. Sinar matahari menembus ke dalam ruang gelap. Sinar menyilaukan yang masuk melalui jendela kamar. Tadi malam (mungkin) Jessica membiarkannya terbuka. Sosok itu terbangun, ia hanya membuka kedua matanya tanpa bergerak sedikit pun. Lalu sesaat, ia menatap ke jendela. Ia sadar ini sudah pagi. Jessica menyandarkan tubuhnya. Lalu teringat kembali kenangan itu. Baru kali ini, ia mendesah.

Entah mendapat firasat atau apa. Jessica secara tiba-tiba berjalan ke arah jendela. Ia membuka pelan tirai jendela.

Pagi itu terasa begitu memilukan. Tapi lagi, ia kembali menatap ke bawah, halaman penginapannya. Tak lama didapatinya sosok pria yang berjalan dari pintu gerbang. Pria itu hanya memakai kaos tipis warna putih dan wajahnya terlihat pilu. Jessica melihatnya, ia menatapnya dengan jelas. Siapakah pria itu, Jessica tahu dengan persis. Kemudian ia berlari keluar, tak peduli bagaimana keadaannya saat ini. Pria itu yang ada dipikirannya. Beberapa langkah ia terjatuh lalu berdiri dan berlari lagi. Begitu seterusnya hingga ia sampai di ambang pintu. Ia menghela nafas sejenak, berusaha menyiapkan dirinya agar tak serapuh semalam. Setelah tenang, ia membuka pintu dan didapatinya pria itu sudah berbalik dan akan pergi meninggalkan area tersebut.

Changgaman!

Pria itu sedikit menoleh. Ia menyadari siapa yang berteriak. Tangannya mengepal, mungkin inilah caranya untuk menahan perasaannya.

“Kau.. tidak ingin.. melihatku, Kris-ssi?”

Mata Jessica sudah berkaca-kaca. Hatinya sudah berkecamuk antara bahagia dan kecewa. Tapi ia tetap mencoba tenang agar Kris tetap ada di sana. Kris terdiam, ia merasakan Jessica yang mulai rapuh lagi. Tak lama, ia merasakan sepasang tangan merangkul tubuhnya dari belakang. Ia tahu ini yang membuatnya goyah. Tapi ia tetap diam, tak membalas pelukan Jessica. Matanya juga sudah berkaca-kaca, Kris hanya menahannya.

“Bisakah.. kau juga memelukku? Aku.. aku sangat merindukanmu.”

Kris hanya terdiam. Tak berbalik atau pun menjawab pertanyaan Jessica. Ia tahu Jessica sudah menangis sekarang, tapi bagaimana pun ia harus bertahan jangan sampai goyah. Dan dengan menguatkan hatinya, ia memejamkan mata lalu tangannya mulai menyentuh Jessica. Bukan untuk memeluknya tapi melepaskan tangan Jessica dari tubuhnya. Dan wanita itu hanya pasrah merasakan perlakuan Kris yang berbeda. Ia hanya menatap kepergian pria yang ia cintai dengan pilu.

Kris. Ia menggigit bibirnya, saat ia mulai meninggalkan halaman penginapan Jessica di situlah ia mulai menangis kesakitan. Betapa ia mencintai wanita itu, tapi dia harus menghancurkan perasaannya sendiri demi orang tuanya. Kris juga tak kalah terluka seperti Jessica.

 

***

 

Seseorang dengan dua pria berpakaian rapi lengkap dengan jas-nya. Pria muda tadi masuk ke dalam mobil pabrikan italia tersebut. Ia duduk di jog mobil belakang dengan bersilang kaki. Sesekali ia menatap keluar melihat pemandangan kota Seoul yang sudah sibuk meski ini masih cukup pagi.

Incheon International Airport.

Sosok pria jangkung dengan tubuh kurus, dan wajah oriental-nya. Style anak kota metropolitan nampak dipakaian yang ia kenakan. Ia mengedarkan pandangannya. Seperti mengharapkan kehadiran seseorang, tapi Kris tak menemuinya. Dilihatnya jam tangan branded miliknya. Waktunya sudah tidak banyak, dia mungkin bisa ketinggalan pesawat jika terus menunggu sosok yang tak kunjung terlihat batang hidungnya itu. Kris memutuskan untuk meninggalkan lobi, namun perasaan ragu membuatnya menghentikan langkah. Ia menoleh ke belakang. Nihil. Ia menghela pelan. Orang itu memang takkan datang.

 

The End.

 

Author’s comment :

Thanks for the readers. Tapi, mungkin sedikit dari kalian ada yang bingung tentang kisah fanfic ku ini. Ya, karena ini adalah fan fiction yang dibuat secara iseng-iseng. Oke sedikit informasi saja, fanfic ini menceritakan bahwa sebenarnya Kris mencintai Jessica namun ada alasan tertentu mengapa orang tua Kris tak memperbolehkan putranya dekat dengan si cantik ini. Nah di akhir cerita Kris akan pergi ke suatu tempat. Bisa dilihat, di akhir cerita tertulis “sepertinya mengharapkan kehadiran seseorang” itu adalah clue. And the story is not really “the end”.

Don’t Forget, R&R right?

Gamsahamnida.

Iklan

4 tanggapan untuk “You Are My Everything

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s