Guess The Sunset (From Now, It’s Begin)

053114_1232_GuessTheSun1.jpg

 

Author : Nurisya

Title : Guess The Sunset, From now, it’s begin

Cast :

Jessica Jung / Lee Seoyeon Girls’ Generation

Xi Luhan EXO

Im YoonA Girls’ Generation

Kris EXO

Another Cast :

Jessica’s Eomma

Lay EXO

Kai EXO

Chen EXO

Chanyeol EXO

Hyoyeon Girls’ Generation

Victoria f(x)

Genre : Sad, Romance

Length : Multichapter

A/N : Be Carefully! Membaca fan fiction ini bisa terjadi kebingungan, kecewa, sedih, bahkan galau yang berlarut-larut. Dan ditambah dengan lagu ballad korea favorite kalian. Hasilnya… mianhae saya lebai lagi!! Tapi aku harap kalian bisa paham dengan alur critanya yah. Sekilas ini seperti kisah patah hati anak remaja masa kini. Jadi semoga enjoy yah dan semoga menghibur. And this stories are mine right. The casts are families’s. Oke, gak byak yg mau aku omongin (Segono gak banyak?!) cukup….

 

`HAPPY READING`

 

 

Laju kendaraan sore itu sedikit lambat karena ada beberapa jalan berlubang-akibat-hujan-yang-mengguyur-beberapa-hari-ini sedang diperbaiki yang menyebabkan jalan raya tak bisa sepenuhnya dilewati oleh beberapa kendaraan besar seperti truk dan bus. Beberapa pengendara mobil sedikit geram, menggerutu dalam hati. Seharusnya proyek seperti itu dikerjakan saat malam hari sehingga jalanan lebih lengang. Lagi pula sore ini cuaca tidak bersahabat tapi tetap saja perbaikan jalan masih dilanjutkan.

Sore ini seperti biasa melihat kendaraan yang berlalu-lalang di depan toko kecilku, ah tidak ini toko milik ibuku. Ia mengelolanya sekitar delapan bulan yang lalu. Sebenarnya ibu bisa saja menjagakan uang yang ia dapat dari pensiun ayah sebagai guru tapi karena tempat ini kosong jadi ibuku pun memanfaatkannya. Seperti biasa. Aku selalu menghela nafas saat melihat beberapa pasang pria dan wanita dengan kendaraan roda empat mereka yang lewat di depan toko kami. Lalu mendesah sebentar dan menengok telepon genggamku. Aku jadi teringat sudah lebih dari satu tahun aku sendirian tanpa seseorang yang bisa mengisi hari-hariku yang menjenuhkan.

Setidaknya hariku jadi lebih indah saat bisa melihat perkebunan bunga tulip di belakang toko. Aku suka memandanginya di sore hari dan pegunungan yang mengitari daerah tempatku singgah. Kota kami yang jauh dari siluet-siluet buatan sinar matahari yang terpantul dari kaca-kaca gedung pencakar langit, tak ada pabrik yang mengepulkan asap penuh polusi, dan limbah pabrik yang mengotori sungai. Di sini meski kemajuannya tak jauh dari kota kami masih bisa menjaga keasrian kota ini. Sangat indah saat melihat puluhan burung melewati garis-garis besar berwarna orange kemerahan yang menghiasi langit sore ini. Syukur lah karena hujan tak jatuh, mungkin ia masih setia mengumpulkan kristal-kristal-nya lalu untuk mengguyur kotaku esok hari. Sore ini aku mendesah. Bukankah senja begitu indah tetapi saat sendiri seperti ini melihat langit sore hanya akan menyakitkan ku.

 

***

 

Garis-garis kehidupan itu menelusup lewat tirai berwarna biru muda yang sedikit terbuka. Kebetulan pagi itu adalah hari minggu kesempatan bagiku untuk bermalas-malasan. Sedikit menyilaukan karena seseorang datang lalu dengan seenaknya membuka tirai sepenuhnya hingga aku menutup wajahku dengan selimut yang masih lekat di badanku. Aku menggeliat. Serasa seluruh badan kaku. Sepagi ini, aku sudah merasa kelelahan.

“Bangun Jessica.” Terdengar samar. Tapi aku masih bisa mendengarnya. Suara lembut yang hangat itu selalu jadi alasanku untuk menjalani hidup lebih baik. Suara yang selalu menyadarkanku bahwa dunia ini begitu jahat tapi saat kau menjalaninya dengan setulus hati kau akan merasakan kebaikannya.

Aku tersenyum garing saat mengingatnya. Aku pun beranjak dari tempat tidur, merapikannya terlebih dahulu. Sesaat menatap bingkai di atas meja, fotoku seorang diri.

“Masih ngantuk Buu..”

Aku meregangkan tanganku. Berjalan menuju dapur, samar-samar terlihat ibu yang masih sibuk di dapur. Berjalan ke sana-ke mari mengambil bahan makanan dari meja di belakangnya. Aku tersenyum getir. Tiba-tiba membayangkan masa depanku yang sama sekali belum nyata. ‘Jadi esok jika aku punya suami akan seperti ini?’

“Jessica-ya.. jangan melamun lagi.”

Seketika aku bergidik. Hanya bisa tersenyum saat ibu menatapku hangat seperti itu. Sedikit menggaruk jidatku sendiri meski tak gatal. Bingung dengan lamunanku barusan lalu ‘sudahlah’ duduk dan memakan apa yang ada. Aku bisa merasakan ibu tersenyum senang melihatku makan selahap ini.

Pagi ini kenapa cuaca begitu cepat berubah. Tadi jam 6 saat aku sudah terbangun, matahari masih terlihat jelas sinarnya tapi sekarang baru aku sadar rintik-rintik hujan sudah membasahi pelataran depan rumahku. Tidak deras hanya gerimis. Entah apa yang membuatku seperti ini. terhipnotis suasana pagi ini. tanganku secara perlahan terulur ke depan. Merasakan tetesan sisa air hujan dari pelipir genting. Seakan aku bisa merasakan sesuatu yang dulu hilang. Dingin yang aku rindukan seperti ini.

“Jessica, ibu berangkat dulu.”

Aku refleks memutar badanku. Melupakan suasana ‘romantis’ barusan. Berlari mendekati ibuku. Tersenyum dan mencium pipinya lalu memeluknya dengan hangat. Ini adalah saat-saat yang aku suka karena bisa merasakan pelukan ibu, merasakan sentuhan tangan ibu, merasakan kehangatannya jauh lebih dekat.

“Hati-hati bu.” Dan ibu menghilang setelah ia melambaikan tangan. Aku akhirnya menghela nafas panjang.

Sepanjang hari hanya ku habiskan di depan komputer ‘jadul’ yang dibelikan ibu tahun kemarin untuk hadiah ulang tahunku yang ke -19. Sebenarnya jika mau aku bisa minta dibelikan yang lebih bagus dan lebih canggih dari pada ini. Tapi karena alasan tertentu aku memilih untuk setia pada komputer ini. setidaknya hariku tidak sangat-sangat menjenuhkan jika bisa berkutik dengan beberapa game basic yang sudah disertakan dari sana-nya.

Kalian tahu, aku adalah seorang anak biasa yang belum lama lulus dari sekolah menengah atas, mungkin hampir dua tahunan. Dan tidak seperti anak seumuranku yang memilih kuliah. Aku malah memilih di rumah. Merawat beberapa jenis bunga di pekarangan kami dan melakukan seluruh pekerjaan rumah selama ibu bekerja. Jika aku mau, aku bisa saja mengambil bidang studi terbaik di Seoul National University atau di Korea University. Tapi aku tak menginginkannya. Untuk sementara waktu hidup sebebas ini akan jauh lebih baik.

Sebenarnya ada beberapa kisah yang ingin aku ceritakan pada kalian. Ya, beberapa kisah yang menyentuh, ada juga yang konyol, ada juga yang menyakitkan. Tapi kisah itu belum memiliki akhir. Cerita itu menyambung dan masih bersambung hingga sekarang.

Aku sedikit menghela napas. matahari sudah mulai menyingsing di angkasa. Teriknya sudah tak tertahankan. Tak terasa sudah lebih dari tiga jam aku berada di depan komputer. Hanya asal klik saja. Aku menengok ke pintu depan. Satu atau dua jam lagi ibu akan pulang. Aku pun bergegas ke dapur. Menyiapkan makan siang untuknya. Seadanya. Tak perlu berlebihan.

Aku bersenandung pelan di dapur. Terdengar suara parau burung yang kehausan karena cuaca siang ini benar-benar sangat terik padahal pagi tadi gerimis. Keringatku juga sempat bercucuran kemana-mana. Tanah di belakang kering meski tak sekering saat musim panas. Beberapa orang mungkin sekarang sedang mencari kedai makanan yang menyajikan minuman dingin untuk menghilangkan dahaga mereka.

Eomma pulang.”

Aku tersenyum. Melepas celemekku lalu berjalan menuju ruang depan yang jaraknya tak terlalu jauh, mungkin sekitar dua belas langkah dari dapur. Ia tersenyum seperti biasa. Merenggangkan tangannya, melemparkan tas jinjingnya ke sembarang tempat. Ia selalu berusaha untuk bersikap baik-baik saja padahal di pundaknya terdapat beban yang begitu luar biasa beratnya. Ku sambut senyumnya. Memeluknya erat-erat, mengelus punggungnya, lalu mencium pipinya.

Menggenggam tangannya erat-erat. Kau bisa melakukannya jika kau mau. Hal seperti itu kemungkinan besar akan memberi dampak yang besar juga. Aku sangat menyayangi ibuku, dengan menggenggam erat tangannya seperti ini akan sangat membuat ibuku tenang, setidaknya ia bisa melepas bebannya untuk beberapa saat. Ia bisa bersantai di kehidupannya yang normal sebagai seorang wanita paruh baya dengan seorang putri di sampingnya.

Piring-piring kecil dan semangkuk nasi cukup untuk makan siang kami. Ia tersenyum senang karena anaknya kini sudah jauh lebih besar tak lagi merengek untuk dibuatkan makan, atau memohon agar ibu tetap tinggal di rumah. Putrinya kini sudah bisa membuat makan sendiri, sudah bisa menjaga diri sendiri di rumah. Kini gantian putrinya yang memanjakannya.

Otte omma?”

Neomu masitta Jessica.”

Aku hanya bisa tersenyum. Setulus mungkin. Melegakan karena ibu sangat menghargai apa saja yang aku lakukan asal itu baik. Dia memang seorang ibu yang sangat pengertian. Jauh pengertian dari pada seorang pacar.

A, ngomong-ngomong soal pacar. Aku jadi ingat seseorang yang entah di mana sekarang. Masa itu aku sedang ada di bangku kelas dua Sekolah Menengah Atas.

Sudah lah, takkan menarik jika aku menceritakan sekarang. Lebih menyenangkan melihat ibu melahap semua masakan buatanku. Oh, kenapa hari ini membuatku sangat kelelahan. Apa karena cuacanya?

Aku menghela napas sejenak. Dan tebak siapa yang menyadari helaan napasku tadi kalau bukan ibuku. Ia tersenyum paham apa yang aku rasakan. Mungkin saja. Ia mengelus tanganku. Sungguh terima kasih ibu itu sangat berarti sekali untukku.

 

Akhirnya senja itu datang. Lewat jendela kamarku yang sempurna menengok ke arah pegunungan seribu yang setengahnya tenggelam di hamparan laut luas. Ombak berdebur dan pecah di bibir pantai. Matahari mulai lelah setelah seharian membuatku bercucur keringat. Sekarang saatnya ia membuatku tersenyum lega melihatnya membuat warna jingga seindah itu. Sangat menyenangkan. Aku pasti takkan bosan memandangi keindahan ini setiap hari.

 

***

 

Seperti malam-malam sebelumnya. Aku selalu menceritakan kejadian hari ini. di atas kertas putih, eh tidak kertas ini berwarna coklat muda. Sedikit tarikan napas dan aku mulai menulis. Seperti biasa, hariku tetap tak ada yang spesial. Hanya hari ini saja cuaca agak spesial. Sedikit mendung, lalu cerah, mendung, dan sekarang cahaya bulan benar-benar terang. Tak lagi gerimis, tak lagi panas. Hanya cahaya yang terpancar dari bulan penuh.

Oh iya, kalian tahu aku adalah seorang anak perempuan dengan berbagai imajinasi luar biasa di dalamnya. Maka dari itu kalian akan kaget saat melihat kamarku yang di penuhi oleh papan tulis berwarna hijau lumut. Beberapa bingkai tergantung di dinding. Ada fotoku dengan ibu, foto dengan ayah, foto dengan seorang sahabat, foto sekelas, dan foto dengan seseorang yang masih spesial hingga sekarang. Aku tersenyum getir.

(telepon berdering)

Yeobeoseyo, Jessica imnida. Geogineun nugusijiyo?”

“Jessica-ya..”

Nuguseyo?”

“Jessica-ya..”

Bbiipp bbiipp. Hubungan telepon pun terputus.

 

***

 

Pagi ini matahari sedang bersedih. Ia sedang tak enak badan karena sepanjang kemarin siang ia menghabiskan tenaganya. Sekarang ia sedang istirahat. Untung matahari cukup baik karena mau membagi sedikit energinya sehingga pagi ini tak terlihat sedang berkabung.

Mungkin pagi ini akan jadi awal di mana aku takkan sepenuhnya menjalani rutinitasku seperti biasa. Lihat saja awan sudah bergumpal-gumpal dengan warna kelamnya. Kemungkinan besar hari ini akan terjadi hujan lebat. Tak ada lagi kicauan burung yang mampir di jendela dekat ruang makan, tak ada lagi kegiatanku merawat bunga-bunga milik ibu. Mungkin aku akan sepenuhnya berada di dalam ruang, dengan ibu tentunya.

Morning mom.”

Morning my sweet baby.”

Eomma..”

Dia selalu memanggilku seperti itu-sesukanya-sendiri. Tapi itulah ibuku dengan celotehan manisnya itu. Setiap pagi, setiap saat ketika bersamanya lah aku bisa tersenyum dengan lepas. Tak ada lagi beban, tak ada lagi bayang-bayang harapan itu. Pagi ini aku memanjakan diri sejenak. Menatap taman belakang rumah milik ibu. Membiarkan hatiku untuk tenang dari sisa ketakutan tadi malam. Seperti tertusuk duri-duri tajam dari bunga mawar yang indah dan harum semerbak. Semakin dekat mawar akan semakin melukai tanganku. Dan aku takut untuk terluka oleh mawar itu.

Biarlah ibu berkeringat sebentar di dapur. Toh dia akan senang jika aku tak menganggu ‘acara’nya. Ibu akan lebih suka apabila aku menghabiskan semua makanan buatannya. Dia selalu seperti itu.

Kenapa setiap hatiku merasa sedih hariku juga ikut bersedih seperti ini. Apa alam bisa merasakan bagaimana perasaan seorang manusia sepertiku?

Dugaan ku tadi salah. dua ekor burung kecil tiba-tiba datang. Mendarat di ranting pohon kamboja yang tumbuh tinggi dan bercabang. Suara kicaunya, setidaknya membuatku jauh lebih baik. Kepalanya berputar kesana-kemari lalu saling mematuk-matuk. Dan tak lama mereka terbang lagi ke angkasa entah kemana tujuannya. Mereka sudah menghilang.

“Jessica, ayo makan dulu.”

Ne omma.”

 

***

 

Maaf karena aku bukan seorang peramal cuaca yang baik bahkan aku sangat buruk untuk menjadi seorang peramal. Matahari benar-benar sedang mengelabuiku. Bagaimana bisa pagi yang begitu petang digantikan oleh siang yang begitu terik. Matahari tepat menyingsing di angkasa. Membuat kulit ku terbakar. Keringatku bercucur perlahan. Aku benar-benar bodoh.

Setelah di tinggal ibu esok tadi. Aku memutuskan untuk pergi ke toko. Lagi pula hari ini hari minggu atau bukan toh aku tetap tak punya kegiatan. Tak ada salahnya untukku menengok toko ini. melihat beberapa pembeli lewat meja kasir. Menyalami dengan senyuman lalu menerima uang dan mengucapkan terima kasih. Setidaknya ini jauh lebih baik dari pada aku terus di rumah dengan komputer jadul itu.

Sedikit banyak berbincang dengan karyawan ibuku. Membicarakan tentang beberapa pelanggan yang rewel. Atau terkadang kami membicarakan beberapa kisah konyol yang terjadi akhir-akhir ini. Hingga sampai pada cerita cintanya di masa lalu. Namanya Victoria. Dia dua tahun lebih tua dariku. Dan dia sangat menyenangkan. Aku banyak bercerita dengannya, meski tak semua hal bisa aku bagi. Tapi dia adalah seorang pendengar yang baik. Seorang penasehat dan teman yang baik. Ya, teman karena aku tak pernah membeda-bedakan status kami. Maksudnya status antara karyawan dan anak majikan. Itu sama sekali tak ada dalam kamus hidupku. bukan kah semua manusia itu sama saja. Oh ya Victoria itu cantik. Aku hanya sekedar memberi tahu saja. Sangat tidak baik menjadikannya seorang pemeran yang numpang lewat.

Siang ini. Jalanan cukup ramai. Beberapa truk tronton lewat di depan toko dengan motor-motor yang ada di belakangnya. Bukan mengikuti tapi tak bisa menyalip karena jalanan ramai, takut mengambil resiko. Tapi ada juga yang nekat menyalip dengan kecepatan penuh.

Toko malah tak terlalu ramai. Hanya ada satu dua orang yang datang bergantian. Ada yang sekedang melihat-lihat, ada juga yang membeli satu dua pakaian. Setidaknya ada yang mau membeli meski stok pakaian di toko hampir habis karena ibu tak punya waktu untuk ‘memborong’ pakaian di Seoul.

Ibuku datang. Tepat pukul 13.00. lebih awal dari biasanya. Mungkin karena ia tahu bahwa aku di sini. Makanya dia langsung ke toko dan memberiku beberapa makanan ringan. Setidaknya sedikit banyak menghilangkan rasa bosan. Lelah juga saat harus mondar-mandir mengambil beberapa setel baju tapi pembeli tak suka dan akhirnya pergi tanpa meninggalkan beberapa lembar kertas uang. Kami juga lelah jika harus mengobrol terus. Dan itulah ibuku. Dia selalu tahu apa yang aku mau tanpa bertanya padaku dulu. Dan aku suka itu. Ibu juga suka memanjakan putrinya. Dan dia sangat baik.

Cukup sudah berbasa-basinya. Terlalu sesak siang ini. benar-benar membuatku letih. Kenapa tak ada gumpalan awan yang lewat dengan warna abunya. Matahari siang ini benar-benar menyiksa. Angin terus saja berhembus membuat debu dan kotoran beterbangan kemana-mana. Membuat mataku perih.

Aku masih teringat tentang kisah cinta ibu dan ayah. Mereka tak terpisahkan hingga kematian yang memisahkan mereka berdua. Tapi tidak dengan cinta mereka. Karena cinta itu masih tertinggal di sini, dan masih abadi meski mereka tak bersama lagi.

Bagaimana ini. lama-kelamaan kisah ini jadi semakin berat. Tak seringan saat awal tadi. Aku benar-benar membuat semua menjadi rumit.

Lupakan saja yang ini.

 

***

 

Aku selalu menyempatkan diri berdiri di dekat perkebunan bunga tulip yang baru kuncup tapi ada beberapa yang sudah mekar. Seperti biasa helaan napas beratku berhembus cepat dan terbawa angin. Aku tersenyum getir. Menatap warna-warni bunga tulip sebanyak ini. melihat semburat warna jingga di balik pegunungan. Mendapati bayangan pepohonan yang mulai tak nampak. Dan merasakan angin yang mulai terasa dingin. Belum terlalu lama sekitar dua tahun ini dalam kesendirian. Tapi semua itu terasa seperti satu abad.

Sore ini. jalanan mulai lengang. Toko ibuku juga sudah mulai sepi pengunjung. Hanya beberapa kendaraan yang lewat dan sedikit banyak tertarik dengan beberapa pakaian yang terpajang di teras depan. Aku sudah tak peduli lagi dengan itu. Aku hanya ingin berdiam diri di sini sendirian. Tak ada seorang pun yang berani mendekat termasuk ibuku. Ini lah saat-saat yang paling aku sukai. Merasakan sakit itu kembali lalu menghapusnya perlahan-lahan bersama terbenamnya matahari.

Semua begitu tenang. di detik-detik saat matahari akan benar-benar menghilang. Mengistirahatkan diri. Padahal ia tak benar-benar istirahat. Aku perlahan menutup mataku. Menghayati bahasa alam. Mencerna setiap napas kehidupan itu. Merenungkan kembali apa yang telah terjadi. Detik yang menyakitkan ini akan segera berlalu. Pasti akan berlalu bersama angin senja ini.

 

“…. aku pernah ingin menyentuh angin. Mengenggamnya erat. Merasakannya. Halus atau kasar. Hitam atau putih. Tapi aku tak pernah berhasil. Bodohnya aku yang dulu menginginkan sesuatu yang konyol seperti itu. Tapi boleh kan aku berharap dengan kemustahilan itu?”

 

***

 

Aku tak berharap bahwa hari ini akan benar-benar mengubah bagaimana hidupku selama dua tahun terakhir. Semua yang telah terpendam dalam tiba-tiba dapat digali hanya dalam hitungan detik dan bungkusan itu masih utuh, hanya sedikit kotor di luarnya.

Aku benar-benar tak paham dengan satu hal ini. Aku yang selama ini sudah membuang jauh-jauh botol kecil ke tengah lautan samudera tiba-tiba menepi di bibir pantai dan tepat tertangkap oleh mataku. Kalian tahu? Saat sebuah kisah pahit, tidak, kisah paling manis dan paling pahit dalam hidup kalian tiba-tiba menyeruak begitu saja menjadi headline hari ini dan mungkin seterusnya.

Akan sangat menyakitkan saat kau dulu yang berusaha untuk melupakan dan membinasakannya agar kau tak lagi merasakan rasa sakit itu. Maka imbasnya adalah luka itu akan kembali dan memberikan lagi rasa sakit itu saat kau tak bisa menerima dengan hati yang ikhlas dan tak mau memahami bagaimana rasa sakit itu mencoba untuk mendewasakan atau menyadarkanmu akan suatu hal. Dan itulah yang perlahan aku rasakan kini.

Tepat pukul 06.00. Semuanya dimulai dari pesan singkat yang tiba-tiba muncul di layar utama telepon genggamku. Sangat jarang ada sms masuk. Biasanya hanya dari ibu atau Victoria. Itu saja jika memang penting, kalau tidak aku takkan pernah menyentuh atau sekedar mengecek telepon milikku. Hariku akan lebih sering ku habiskan dengan memainkan komputer, merawat kebun, menjaga toko, atau sekedar mengagumi cahaya di senja hari.

Dan kali ini, kegiatan yang sudah tak pernah aku jalani itu mengharuskan aku untuk kembali.

 

“Selamat pagi, masih kah Sica itu di sana? Dengan wajahnya yang hangat meski semua orang berkata kau dingin. Semoga harimu indah.”

Aku menghela napas. Begitu berat rasanya. Membaca kata demi kata yang terpampang jelas di layar teleponku. Setelah sekian lama, kata-kata yang dulu selalu membuatku tersenyum, kata-kata yang selalu membuatku lebih bersemangat itu tiba-tiba saja datang tanpa ada kabar tanpa undangan.

Dan ibu tahu benar dengan gurat wajahku pagi ini. Aku yang hanya menopang dagu dengan kedua tanganku, menghela napas begitu banyak, menatap kosong ke luar jendela. Ibu benar-benar tahu bagaimana aku pagi ini. Tapi ia hanya diam, toh apa yang harus ia lakukan di saat putrinya ini sedang dihujani oleh berjuta pertanyaan dan yang pasti aku benar-benar tak ingin diganggu dengan pertanyaan seperti ini ‘ada apa?’

 

***

 

Aku memutuskan untuk tak membalas pesannya. Meski seharian ini aku terus memikirkan apa maksud dari pesannya tadi pagi. Menghela napas lagi untuk kesekian kalinya. Jika saja beban hatiku bisa menghilang. Tergulung ombak, terkubur perlahan ke dalam pasir dan jika kembali maka aku berharap aku tak bisa menemukannya.

Sore ini, aku memutuskan untuk menatap indahnya senja dari pinggir pantai. Mungkin sekitar satu meter jaraknya air laut bisa menyentuh kakiku. Meski aku sadar aku sendiri sangat takut dengan air laut. Kalian tahu karena trauma masa kecil. Tapi sore ini aku memberanikan diri untuk melawan rasa takut itu. Meski aku bisa merasakan bagaimana gulungan ombak itu meluluh lantakkan tembok yang sudah ku tempatkan di hatiku karena ombaknya yang terlalu besar.

Tapi aku tetap diam. Membiarkan pasir-pasir yang ada di bawah kakiku ‘berjalan’ tergerus oleh ombak. Perlahan pecah menjadi air laut yang tiba-tiba naik lalu surut kembali. tanganku gemetar takut-takut aku juga ikut terbawa arusnya. Tenggelam ke dalam lautan lalu malah bertemu dengan memori masa lalu itu. Dan terkubur dalam tak terjangkau oleh satu manusia pun. Tidak, itu terlalu dramatis.

Ah, kan lebih baik jika aku memejamkan mata. Merasakan setiap hembusan napasku, jantungku yang berdeguk begitu keras, dan angin yang berhempus menyentuh kulitku yang sebagian tak ‘terbungkus’ kain. Hanya memakai cardigan putih dengan rok selutut dan kaos warna hitam. Aku tak punya daya untuk berpakaian sebaik biasanya.

Perlahan aku meregangkan tanganku. Membiarkannya ‘melayang’ di atas udara, merasakan lebih dalam sentuhan angin. Kepalaku bergidik, kedinginan. Tapi aku tetap bertahan. Angin berhembus cepat. Menerbangkan cardigan tipisku, mengepak cepat seperti sayap burung. Rambutku terbang ke belakang. Wajahku terlihat begitu jelas. Gurat ketakutanku yang tak pernah nampak hampir dua tahun ini. air mata yang lama tak menetes hampir dua tahun ini. belum juga berakhir, ini baru awal tapi kenapa sudah sesakit ini.

Apa kalian bingung? Bagaimana aku bisa sesakit ini. Bisakah seorang saja yang betul memahamiku tanpa aku mengucapkannya dengan jelas. Aku yang dua tahun ini hanya ‘bercerita’ dengan alam karena tak punya seorang pun yang benar-benar aku percaya untuk menyimpan rahasiaku. Rahasiaku dari ibuku dan orang lain, seperti Victoria dan teman-teman lamaku yang biasanya datang sebulan sekali untuk menengok bagaimana keadaanku dan ibu.

Ya, selama ini aku bisa disebut sembunyi dari kenyataan karena aku takut merasakan sakit. Ya Tuhan kenapa aku seperti ini? membodohi diriku sendiri, membohongi diriku sendiri.

Senja selalu melukiskan semburat jingga meski kadang tertutup mendung atau harus bersembunyi karena hujan deras. Jingga tidak pernah menghindar untuk terus membuat sore indah meski terkadang tak nampak. Tapi aku bahkan tak bisa sebaik senja. Aku menutupi segalanya. Kesedihanku, keputusasanku, rasa sakit itu tertutup rapat tanpa seorang pun tahu, termasuk ibu. Tidak, aku rasa ia tahu. Ibu hanya berpura-pura tidak tahu. Dan Victoria mungkin juga sedikit banyak tahu bahwa aku tidak baik-baik saja. Dia adalah seorang pelukis wajah yang sangat baik.

Sama seperti senja hari ini. Ia melukiskan hatiku dengan sangat baik. Membuat hatiku berkecamuk lagi. Membuat hatiku terkoyak lagi, hancur kembali seperti gelas-gelas kaca yang terjatuh dan pecah.

“Pulang lah.”

Seketika tubuhku menoleh. Aku tahu ia benar-benar paham. Akhirnya.

 

To Be Continue….

 

Author’s Comment :

Untuk awal cerita ini. Lebih pada pengenalan tentang Jessica dan kehidupannya. Nah baru lama-lama kita dibawa ke cerita intinya. Meski tak dijelaskan secara singkat. Sebenernya disengaja, biar kalian bisa nebak-nebak klimaks nya seperti apa sesuai imajinasi atau harapan kalian. Aduh, aku sok formal(lagee!!) Yowes epribodies tbc dulu yah.

Gomawoyo for yall, readers. Lebih terima kasih kalau di comments yah!

 

Iklan

4 tanggapan untuk “Guess The Sunset (From Now, It’s Begin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s