Guess The Sunset – Chapter 2 ( For Not You Know)

 

Author : Nurisya

Title : Guess
The Sunset, For Not You Know

Cast :

Jessica Jung / Lee Seoyeon Girls’ Generation

Xi Luhan EXO

Im YoonA Girls’ Generation

Kris EXO

Another Cast :

Jessica’s Eomma

Lay EXO

Kai EXO

Chen EXO

Hyoyeon Girls’ Generation

Victoria f(x)

Genre : Sad, Romance

Length : Multichapter

A/N : And this stories are mine right. The casts are families’s. Anyeong bertemu lagi dengan…. saya. Pada chapter kedua ini kalian akan dibawa oleh time machine ke masa lalu. Haha#alay dikit. Jeng jeng, masa lalu siapa? Saya? Eh Si Jessica. Mengungkap tentang bagaimana kisah pahitnya itu dimulai. Oke, langsung aja. Check this now!

`HAPPY READING`

 

Hari itu di bulan-bulan akhir tahun 2011 pukul 09.00 pagi. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas dua tingkat sekolah menengah atas. Kebetulan hari itu sedang berlangsung ujian sekolah. Pelajaran pertama yang diujikan jamnya sudah selesai sehingga aku bersama beberapa teman berada di depan kelas. Bukannya belajar atau membaca kisi-kisi kami lebih banyak bercerita tentang banyak hal, saling ejek.

Hyoyeon, salah seorang temanku di kelas. Apa-apa selalu aku ceritakan padanya. Tapi tidak tentang hatiku kepadaku kedua pria ini. Ya, Dua bukan satu. Seseorang yang cukup tinggi, baik dalam menari, punya style yang baik juga. Yang satunya tingginya sedang, manis, baik hati, sangat baik dalam bermain basket. Tapi sayang keduanya dijuluki seorang pemain. Entah bagaimana aku bisa tertarik dengan kedua orang ini.

Di pagi yang tak terlalu terik, seperti biasa aku berbincang dengan Hyoyeon. Menceritakan beberapa cerita lucu. Suara kami bersiteru dengan suara yang lainnya seperti angin ribut. Hanya kami saja yang tak tahu karena sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Pagi itu aku masih ingat, saat kedua orang pria itu duduk di depanku. Membicarakan tentang kisah indah mereka. Lay-namanya yang mengajak mereka untuk bertemu dan bersenang-senang bersama. Sontak hatiku benar-benar mulai tergempur. Bagaimana bisa mereka setega itu denganku.

Mungkin mereka memang bukan tidak peduli atau mereka memang bukannya tega padaku. Tapi mereka memang tidak tahu. Siapa yang tahu tentang perasaanku yang ku simpan begitu rapat. Bahkan sahabat dekatku pun tak tahu. Bagaimana mungkin aku mengharapkan kedua pria itu mengetahui perasaanku. Tak mungkin juga mereka membalas perasaanku.

Membicarakan tentang percintaan mereka di depan orang yang diam-diam mengagumi mereka? Bahkan aku tak pernah mengatakan hal ini pada siapa pun aku benar-benar menyimpan rapat-rapat rahasia ini, untuk waktu itu saja.

Waktu berlalu begitu cepat. Dan seperti kebiasaanku saat sudah pulang rumah, aku langsung mencari ibu. Tapi karena aku pulang lebih awal tak ku jumpai tubuh setengah gendut itu. Setidaknya aku bisa menunggunya hingga pulang lalu bercerita tentang hal-hal yang terjadi tadi di sekolah. Ibu adalah tempat curhat terbaik bagiku.

Aku menghela napas. setelah dua jam menahan sesak yang tertahankan itu. Mendengar pembicaraan mereka secara langsung, melihat wajah mereka yang berbunga-bunga. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku tertarik dengan keduanya? Siapa gerangan gadis-gadis beruntung yang sudah mengisi hati mereka?

Aku tersenyum getir. Membayangkan betapa bahagia kedua gadis itu. Mereka yang berhasil menyentuh hati kedua pria yang aku sukai. Mereka yang berhasil membuat hari-hari keduanya ditumbuhi bunga nan indah. Tapi kenapa aku hanya bisa menjadi seorang pengagum rahasia yang harus menanggung rasa sakitnya.

Bukan kah aku sudah membuka rahasia besar yang tak seorang pun tahu. Tak satu pun. Hanya Tuhan yang paham. Hanya Tuhan yang tahu betul bagaimana kisah ini bergulir. Menguak rahasia-rahasianya. Mengupas sedikit banyak kenyataan yang harus aku hadapi. Ia benar-benar mendengar suara isak tangis ku setiap malam di mana aku yang selalu terikat oleh mereka. Memendam rasa itu sendiri. Hanya berbagi pada Tuhan, sedikit berbagi pada ibu.

Tak ada yang mereka tahu. Yang mereka tahu adalah seorang Jung Jessica yang sangat digilai oleh seorang pria populer bernama Park Chanyeol. Pria konyol yang sangat suka berkaca. Memamerkan rambutnya, terlalu sering bergonta-ganti gaya. Menaiki motor besarnya, bergaya sekeren mungkin dan tersenyum begitu lebar. Ia bahkan pernah mengejarku hingga ke pelatan sekolah hanya untuk mengatakan agar aku hati-hati saat di jalan.

Ya, ia memang tampan. Sempurna malahan. Sedangkan aku haya gadis biasa. Aku masih teringat saat itu, ia duduk di depan kelasku. Termengu memegangi sepucuk bunga mawar merah. Tersenyum begitu lebar saat aku lewat di depannya. Tapi aku tak pernah menanggapinya karena yang aku tahu ia adalah seorang pria pecinta kesempurnaan. Dalam benakku mungkin dia hanya akan mempermainkanku.

Hingga suatu saat, karma Tuhan benar-benar berlaku. Aku meneteskan air mata saat menyadari ia-Chanyeol-sedang bermesraan di belakang ruang musik dengan seorang teman sekelasnya. Mungkin kekasihnya. Ya, hatiku memang hancur. Aku akhirnya merasakan sakit itu. Tapi sayang, aku jauh lebih hancur saat mendengar perbincangan pagi tadi.

Berhari-hari aku memikirkannya. Sayang tak seorang pun tahu. Aku menutupinya begitu rapat. Lagi-lagi hanya Tuhan yang tahu dan paham betul dengan ceritaku.

 

***

 

Sore itu. Saat aku memutuskan untuk singgah sejenak di belakang perkebunan stroberi yang didirikan ayah setahun sebelum aku memasuki jenjang sekolah menengah atas. Rumah kaca itu setidaknya mampu mengobati rasa sakitku. Bukan karena banyak stroberi merah nan menggoda lidah. Atau aku bisa sesekali menemukan pria tampan yang mau memetik stroberi. Tapi karena pemandangan sore itu. Tepat di halaman belakang rumah kaca itu aku bisa melihat pemandangan indah pegunungan seribu yang menjulang tinggi, namun tak menembus awan. Tetap dengan pesonanya. Sebagian gelap dan sebagian terang. Sore itu terdapat semburat indah nan mempesona mata. Segerombolan burung camar melintas tepat di antara semburat jingga. Lalu kicauan kenari milik ayah yang ada di dekat jendela ruang penyimpanan menghiasi suasana sendu sore itu. Ya, aku seperti dimanjakan oleh alam. Sedikit banyak membuatku terhipnotis oleh keeksotisan sore itu. terhanyut dalam dunia khayal yang hanya ada aku dan kebahagiaan itu.

Betapa beruntungnya aku mempunyai dua orang tua yang sangat cerdas memilih lokasi mencari uang. Ibu waktu itu memang belum mempunyai sebuah toko yang aku bicarakan saat di awal cerita. Ibu masih sedikit banyak membantu pekerjaan di perkebunan dan mungkin seharian bisa dua kali pulang pergi dari rumah. Ibu dan ayah sama-sama berprofesi sebagai guru. Mereka juga sama-sama menyukai bisnis.

“Jessica-ya..”

‘kenapa harus sekarang bu?’ batinku dalam hati.

Aku selalu hafal dengan panggilan itu. Panggilan minta tolong yang selalu diucapkan oleh ayah dan ibuku. Tapi sayang, panggilan itu datang di waktu yang tidak tepat. Aku baru saja mulai menikmati bahasa alam yang tenang, baru saja akan menyatu ke dalamnya.

Ne, omma.

Biarlah, bukan kah masih ada hari esok yang mungkin saja semburat jingganya akan lebih indah, atau mungkin akan lebih banyak burung berkicau menghiburku.

 

***

 

Entah sejak kapan aku suka memandang langit. Entah langit yang tertutup kabut di esok hari atau langit di siang hari yang tak sanggup aku lihat karena sinar matahari yang membuat mata silau. Atau pun langit senja yang eksotis dan langit malam yang gelap. Tapi penuh bintang.

Malam itu, untuk kesekian kalinya. Ya Tuhan lagi-lagi aku mengingat mereka. Bukan kah esok aku masih ujian? Tapi kenapa? Kenapa harus terngiang lagi kejadian pagi tadi.

Aku menghela napas. mencoba berkonsetrasi menyelesaikan beberapa soal latihan, sesekali menatap langit agar tidak bosan. Sudah hampir satu setengah jam berlalu. Dan kalian tahu? Jung jessica yang biasanya sangat semangat mengerjakan soal bahasa inggris ini tiba-tiba tak bersemangat. Matanya mulai berair, bukan karena terkena debu, bukan karena tak sengaja mengenai tangan, tapi karena di salah satu sisi hatinya sudah ada yang terkikis. Meski hanya sedikit tapi rasa sakit itu terasa hingga palungnya. Bahkan semakin lama sakitnya menjadi-jadi. Kenapa aku begitu rapuh? Setelah lima tahun lebih aku menguatkan hati untuk tak lagi menangis karena cinta bertepuk sebelah tangan. Bohong, bukan kah tadi aku juga bilang bahwa aku pernah menangis karena Chanyeol-sunbaenim. Tapi untuk urusan kali ini, itu bukan hanya sekedar rasa takut tak disukai lagi. Tapi itu lebih. Lebih ingin mengetahui kehidupannya, bagaimana ia dari dekat, bagaimana ia hanya tersenyum pada satu wanita saja, bagaimana ia yang mencintai satu wanita saja. Tapi kenapa aku harus tersentuh oleh dua pria.

Ya Tuhan, aku benar-benar membutuhkan ibu. Aku tak lagi punya tempat untuk meredakan rasa sakitku. Malam yang semakin larut malah semakin membuatku juga larut dalam kesedihan. Aku tahu ibu sudah tidur. Sekarang sudah jam sebelas malam. Siapa yang masih terjaga? jawabannya hanya orang-orang galau yang kesepian atau pria-pria malam yang sedang asyik nongkrong di kedai soju.

Dan aku adalah orang galau itu.

 

***

 

Waktu berlalu, sekitar sepuluh hari setelah kisah pagi itu. Semua berubah 180 derajat. Aku benar-benar tak merasakan rasa sakit itu, meski tak sepenuhnya hilang setidaknya aku sudah tak merasakannya. Lagi. Lay, pria pertama yang aku sukai. Ya dia sudah terhapus dari daftar orang yang membuatku sakit. Dia benar-benar sudah lenyap karena baru aku ketahui dia sedang dekat dengan seorang sahabat, bukan karena kami baru kenal jadi lebih pantas disebut dengan teman. Lee Sooyoung. Tak perlu aku sebutkan ciri-cirinya dengan jelas. lagi pula ia tak terlalu penting dalam kisahku. Mungkin jika penting, maka itu akan tertulis jelas dikisahnya sendiri.

Tapi ya Tuhan. Beberapa hari setelah sebagian rasa sakit itu pergi. Aku kembali hancur. Bagaimana bisa aku lupa bahwa pria itu-si-Luhan memiliki seorang pujaan hati. Aku bisa-bisanya melupakan hal sepenting itu. Dan kini, harapan itu muncul membumbung tinggi lalu seketika aku terjatuh dari jarak 1000 kaki di atas permukaan laut. Sakit.

“Ada apa denganmu Sica-ya?” tanya Taeyeon. Dia selalu bergelayut manja seperti itu dengan kami. Teman dekatnya.

eopseo.” Jawabku singkat. Tidak mungkin kan aku ceritakan yang sebenarnya.

Aku tahu benar bahwa Luhan sadar aku sedang marah dengannya. Ya Tuhan bagaimana bisa aku menunjukkan sikapku yang murung sepanjang hari ini. Lihat teman-temanku menjauh. Dan aku merasa dikucilkan. Apa mereka tak sadar aku sedang butuh seorang teman. Hanya untuk bersandar dan tak perlu bertanya ada apa denganku.

Dan malangnya aku. Siang ini jam terakhir cuaca ikut berubah 180 derajat. Hujan deras mengguyur kota kami. Kabarnya sempat ada beberapa pohon yang tumbang di jalan. Dan kami masih berada di kelas. Untungnya bagi semua murid pelajaran saat itu kosong dan mereka bisa sesuka hati berkeliaran kemana-mana. Tapi apa ada yang tanya bagaimana aku saat itu? Berdiam diri, hanya mematung. Sesekali menengok telepon genggamku. Lalu menoleh kesana-kemari. Mendapati beberapa teman sedang asyik mengobrol atau ada juga yang berteriak kencang di luar kelas, ada pun yang sibuk dengan telepon genggamnya. Dan aku hanya seorang diri tanpa rasa bahagia sedikit pun.

Bel tanda jam sekolah sudah berakhir sekitar pukul 03.00. sore. Semua siswa-siswi termasuk aku berhambur ke luar kelas. Tapi aku hanya melangkahkan kaki seenaknya menabrak sana-sini. Dan kalian tahu, sore itu masih mendung, Hyoyeon yang di sampingku pun hanya diam saat sedari tadi mendapati wajah musamku. Ini yang menyakitkan. Hatiku kembali mendung saat aku mendengar bisik-bisik teman di sebelah. Taeyeon dan Tiffany yang bergandengan menggunjingkan anak kelas satu yang baru saja lewat di depan kami. Kebetulan suasana saat itu tidak terlalu ramai karena kami keluar paling akhir hanya aku yang mencuri-curi kesempatan untuk keluar duluan.

Saat itu aku tak tahu nama gadis beruntung itu. Aku juga tidak lagi peduli dengan mantan kekasih Lay yang juga baru saja lewat. Mereka berjalan saling berbelakangan meski tak saling mengenal. Ya ceritanya nanti saja lah. Yang ini jauh lebih penting bukan. Ini adalah awal di mana kisah kami dimulai.

Sesampainya di rumah aku masih memikirkan soal tadi. Tentang si gadis beruntung itu. Tak perlu diberi keterangan jelas bagaimana dia, karena cukup simple untuk mendeskripsikannya bahwa
ia sempurna. Jauh lebih sempurna dariku. Ya Tuhan, kenapa aku menjelek-jelekkan diriku sendiri?

Bagaimana ini, perasaanku sudah jauh membumbung tinggi. Mengharapkan sesuatu yang tidak masuk akal, mengharapkan lebih dari sekedar mengenal satu sama lain, atau lebih dari sekedar teman berbagi susah dan senangnya.

Langit sore itu masih mendung. Aku tak menemukan semburat jingga di ujung barat. Atau pun burung yang bergerombol ria siap bersembunyi karena petang akan segera datang. Aku terduduk lemas menopang dagu. Menatap sekelilingku dengan malas lalu menghela napas begitu panjang. Tak ada yang istimewa hari itu. Aku toh datang ke perkebunan milik ayah karena ingin menghilangkan rasa jenuh. Di rumah tanpa seorang teman hanya akan membuatku merasakan kesepian dan sakit yang mendalam.

“Jessica-ya. Tolong bantu ibu sebentar.”

Ne.”

Aku berbalik lalu berjalan menuju ruang penyimpanan yang ada di sisi timur rumah kaca. Meninggalkan pemandangan menjenuhkan di depanku. Melangkah dengan malasnya. Membantu ibu sebentar meski tak semangat. Meski aku tak berhenti berharap sore itu akan sama indahnya dengan sore-sore kemarin. Dan ibu sadar bagaimana aku sore itu. Tapi ia hanya diam tanpa sedikit pun lupa untuk melihatku, wajahku.

Dan malam pun datang. Aku sudah bersiap untuk merasakan sakitnya juga. Menegaskan hatiku. Bagaimana pun juga kisahnya-si-Luhan akan berjalan dengan baik bahkan mungkin sangat jauh lebih baik. Sedangkan aku termengu menantikan kepastian itu. Maka aku menegaskan hatiku lagi. Sebaiknya aku lebih tahu diri. Tapi, Ya Tuhan malam itu ia bahkan mengirimi ku pesan. Mencoba bertele-tele menanyakan soal pelajaran esok lalu semua hanyut sendiri, berjalan seterusnya dengan topik yang terus berganti. Gurauan khas miliknya, dan ia yang sangat pintar membuat orang lain tersenyum lalu mendengarkan nasehatnya. Terbuai oleh rayuan manisnya hingga aku tak sadar malam sudah semakin larut.

Tapi apa kalian tahu, itu semua terjadi sebelum aku marah padanya. Malam itu, aku hanya sendiri di temani langit yang tak bertaburkan bintang, tak juga pancaran bulan yang membulat di langit malam. Tinggal suara jangkrik yang menghiasi malamku.

Aku menghela napas. menuliskan sedikit suara hatiku.

“Tuhan salahkan aku mencintainya? Tidak, bahkan aku tak tahu aku menyukainya atau tidak. Hanya saja aku benci saat ia dekat dengan yang lainnya. Hanya aku tak suka saat ia tak menatapku. Hanya saja aku terluka saat menyadari kenyataan bahwa ia sudah ada yang memiliki. Hanya saja aku takut jika harapanku akan pupus begitu saja. Tuhan kau pasti tahu bagaimana hatiku hancur seperti debu yang menyeruak ke udara karena terjangan kendaraan bermuatan besar lalu akan kembali tapi tak kembali pada tempatnya. Semuanya menyebar dan begitulah hatiku kini. Kuatkan aku.”

***

 

Aku masih ingat saat itu. Setelah pernyataan mencengangkan dari seorang teman yang membantuku begitu banyak.

Hari itu saat aku sedang marah dengan-ia-yang-tak-mau-ku-sebut-namanya. Seorang sahabat yang benar-benar baik itu membaca pikiranku, mencerna setiap gelagatku hari itu. Malam harinya dia benar-benar membuatku tercengang, kelu tak mampu mengelak. Ia datang ke rumah dengan senyuman khasnya, tersenyum karena tahu sesuatu yang selama ini aku rahasiakan. Ya, malam itu dia menceritakan bagaimana aku mulai tertarik dengan ia. Aku yang selalu terpaku saat ada ia di sampingku. Salah tingkah. Namanya Chen, dia mengatakan padaku tentang kekasih Luhan. ‘Kenapa aku harus menyebut namanya?’. Tidak banyak hanya sedikit dan itu sudah cukup untuk menghancurkanku malam itu.

“Jangan terlalu percaya. Semua pria itu sama.”

Bahkan aku tak menggubris ucapannya barusan. Aku sibuk membaca berpuluh-puluh pesan antara Chen dan Luhan. Dia benar-benar baik, bagaimana aku menjadi topik hangat antara kedua pria ini. Dia yang berusaha mendekatkan kami karena Chen tak mau melihatku murung sepanjang hari seperti hari itu.

Aku menghela napas setelah membaca pesan terakhir itu. Aku mulai ragu lagi dengan harapan itu. Chen juga ikut menghela napas. Malam itu ditemani dengan suara jangkrik dan siluet lampu yang mengenai genangan air depan rumah. Karena malam itu Chen datang setelah hujan lebat mengguyur kembali kota kami.

“Jujur lah dengan perasaanmu sendiri Sica-ya.” Katanya sembari menaruh segelas kopi hangat buatanku tadi. Aku menghela napas lalu bergidik.

“Jangan katakan padanya.”

“Aku saja tahu, bagaimana dengan Luhan. Dia pasti tahu.”

Sejenak aku diam. Merasakan jantungku yang seakan berhenti berdetak. Aku tahu Chen benar-benar ingin membantuku untuk membuatku lebih dekat dengan ia. Tapi aku juga paham betul maksud nasehat Chen barusan agar aku tak percaya sepenuhnya dengan ia. Chen benar-benar paham betul dengan segala sesuatu yang terjadi padaku. Dan kata-kata terakhir Chen itu. Ibu dimana ibu? Ia pasti tahu bagaimana harus menenangkanku di saat-saat segenting ini.

Chen berpamitan. Menyalami ibu dan ayah. Aku tersenyum lalu melambaikan tangan. Aku masih termengu mengingat kembali perkataan Chen tadi. Dan lihat lah ibuku, ia tersenyum dengan tulus lalu meraih tanganku dan mengelusnya penuh kasih sayang. Ya Tuhan terima kasih karena kau mengarunaiku orang tua yang begitu dapat memahamiku sebaik itu.

 

***

 

Detik demi detik, jam terus berputar dan hari terus berganti. Di akhir bulan ke sepuluh itu. Aku bergetar. Bukan karena sakit itu tapi harapan itu yang perlahan semakin membesar dan membuatku terbuai untuk menerima lagi harapan yang ia berikan.

Bagaimana kami dekat, bagaimana kami saling menatap. Kalian tahu, saat seseorang sedang jatuh cinta ia bahkan tak bisa mendefinisikan mana yang benar-benar tatapan tertarik atau tatapan biasa. Semua putih tak terbaca sama sekali. Tapi hatiku bahkan berwarna. Mekar ditumbuhi bunga di musim semi. Subur karena telah dipupuk dengan semua harapan itu.

Pagi itu, aku berangkat seorang diri. Waktu masih menunjuk pukul 6.30. sekolahan masih sepi. Pelatarannya berserakan dedaunan yang jatuh dari pohonnya, angin masih tenang tak bersuara. Langkah kaki beralas sepatu pun terdengar saat mendecit karena lantai yang licin. Pagi itu tak disangka-sangka aku menemukannya sedang berbalik arah, aku berteriak memanggil namanya dan ia menoleh kelabakan apa yang harus ia lakukan. Ia tersenyum lebar. Aku membalasnya.

Semua mulai berbalik lagi. Untuk kesekian kalinya rasa kecewa dan luka itu menganga lagi. Mungkin hanya suara burung lewat tapi mengenang karena indahnya, tapi bagiku ini perkataan seorang teman dengan saksi benda-benda mati tempat mereka duduk saling bertatapan. Saat dua sejoli itu akan mengubur jauh harapan mereka tapi masih dengan gejolak cinta.

Hari itu cuaca tidak mendung dan tidak panas tapi cukup untuk membuatku berkeringat. Aku tersenyum saat mendengar pengakuannya lalu mencoba untuk membuat keputusan yang kedengarannya sangat bijak. Tapi cobalah, Tuhan dan ibuku pasti jauh lebih mengerti arti sebuah kata “aku tidak apa-apa jika tidak denganmu. Kau bahagia itu pun sudah cukup.”. Akan jauh lebih baik jika ibu di sini mendoakan putrinya yang mulai kehilangan harapan itu.

Dia menjelaskan panjang lebar. Ya Tuhan, wajah polosnya, senyuman manisnya, kata-katanya yang berantakan tapi begitu bermakna, tangannya yang terus menyentuh tanganku. Bagaimana aku tak goyah, bagaimana bisa aku melepasnya setelah aku menghancurkan keduanya. Cinta yang berkobar itu tiba-tiba tersiram oleh air.

Dan sepanjang hari aku memikirkan hal tadi. Semuanya masih tertanam dan tertata rapi di pikiranku. Aku pusing jika terus begini.

Sore itu aku berada di rumah. Membaca beberapa majalah untuk selingan agar tidak jenuh. Sesekali memakan camilan di depanku dan menggonta-ganti saluran televisi atau mengganti musik yang aku dengarkan. Telepon genggamku juga setiap dua atau tiga menit sekali pasti bergetar.

Luhan     : “Maaf. Aku memilihmu Sica-ya.”

Sica         : “Tidak apa-apa.”

Aku menghela napas. Ini sudah ke empat kalinya ia mengirimkan pesan tentang permintaan maaf dan sudah ke empat kalinya aku membalas pesannya. Bukan soal bagaimana ia memohon maaf padaku. Lagipula aku sudah memaafkan. Tapi ini soal hatiku yang tak yakin dengan keputusannya.

Suara deru mobil terdengar keras. Kaca di taman belakang rumah sempat bergetar. Aku keluar masih dengan earphone di telinga dan tangan kananku yang memegang sebuah majalah remaja. Orang tuaku pulang. Aku tersenyum seadanya lalu memeluk keduanya dan kembali lagi melakukan kegiatan bersantaiku.

Sore itu aku tak akan melihat pemandangan di halaman belakang perkebunan ayah. Malas, tapi aku sama sekali tak bosan.

Suara gemricik air di kolam ikan dan kicau burung yang terbang dari dahan ke dahan pohon belakang rumah, tumbuhan yang rimbun, dan udara sore yang-tahu-kah begitu berbeda. Suasana itu tak lama membuatku sejenak terhanyut dan Terlelap dalam dunia mimpiku.

Hingga suara yang sering membuat jantungku berdetak kencang itu perlahan membangunkanku. Aku terkesima saat ia datang dengan sebatang bunga mawar dan membawa makanan kesukaanku. Aku menatapnya lekat-lekat takut kalau itu hanyalah bagian dari dunia mimpiku. Tapi ini bukan lah mimpi atau sekedar bayangan maya saja, ini adalah kenyataan.

Lihat lah betapa manisnya ia saat tersenyum, betapa pandai ia bermain kata-kata, membuat gurauan tanggung yang justru membuatku semakin terpingkal. Sore itu ternyata ada untungnya juga aku tak menikmati senja dan untungnya aku sedang dalam selera baik untuk menanggapinya. Meski masih teringat soal itu. Dan lihat lah ia menggodaku yang baru saja bangun dari tidur sore. Aku tertawa malu dan ia terus membuatku salah tingkah memohon agar dia berhenti tak membuatku tersipu. Hingga ia benar-benar berhenti dan hanya tersenyum tanggung.

sejenak saat kami terdiam dalam pikiran masing-masing, aku memikirkan bagaimana senja sore itu. Apakah masih seabu kemarin atau sudah kembali dan jauh lebih indah? Aku menghela napas menatap kosong tanaman hias di depan pintu belakang. Samar-samar aku mendengar suara, ternyata Luhan memanggil namaku, Oh Ibu dia lah pria yang sudah meluluh lantakkan hati putrimu ini. aku tersenyum tanpa menjawabnya.

 

***

 

“Hai diary-ku. Apa kabar? Aku ingin mengabarkan sesuatu hari ini. Kau tahu saat pesawat sedang melayang di udara lalu tiba-tiba diterjang angin dan terjatuh. Rasanya sakit bukan. Meski tak sesakit saat menjadi penumpang pesawat yang jatuh. Tapi sakit ku ini tak berobat. Akan selamanya mengendap di sini dan hanya bisa disamarkan dengan setumpuk kebahagiaan. Oh iya dia tadi sore datang ke rumah dan melihatku berantakan, baru bangun tidur. Bukan kah jarang aku tidur di sore hari karena soreku biasanya aku habiskan untuk melihat senja. Oh aku merindukannya.”

 

Jendela kamarku seperti biasa selalu terbuka lebar dengan aku yang menopang dagu menatap ke atas. Melihat gugusan bintang yang membentuk beberapa rasi bintang. Dan bulan yang bersinar jauh lebih terang dari biasanya. Suara jangkrik di malam hari seakan lenyap, tinggal angin yang berhembus membuatku bergidik kedinginan lalu merapatkan jaketku.

Lampu utama kamarku sengaja aku matikan dan hanya tinggal lampu belajar berwarna jingga yang aku hidupkan. Malam itu benar-benar sunyi. Telepon genggamku terus bergetar tapi aku tak mempedulikannya karena aku sibuk dengan khayalanku di depan sana. Tanganku yang terulur ke depan menuliskan sebuah huruf dengan bintang-bintang sebagai penyambung bentuk huruf tersebut. ‘L’ aku membentuk huruf L di langit sana. Meski tak terlihat aku bisa mengimajinasikan terbentuk inisial nama depannya itu di sana dan memancar indah.

Ya Tuhan, begini kah rasanya orang yang sedang jatuh cinta? Mengada-ada yang tak seharusnya ada. Membayangkan sesuatu tak realistis dan cenderung gila. Melakukan hal-hal yang tak rasional. Itu kah yang artinya jatuh cinta? Menampik semua kenyataan dan hanya ingin merasakan indahnya jatuh cinta. Mempercayai semua kata cinta dan janji-janji yang indah.

Oh Ibu, pasti dia tahu betul artinya jatuh cinta. Mungkin ia akan bilang bahwa jatuh cinta itu merasakan sakitnya dari awal lalu berjuang hingga akhir. Atau ia akan berkata bahwa jatuh cinta boleh saja tapi jangan sampai kau terjatuh saat cinta itu melukaimu, mencintailah sewajarnya dan berharap lah sewajarnya. Dan mungkin dengan definisi cinta lainnya yang adalah tafsiran cinta menurut ibu. Bijak dan sederhana.

Malam itu aku tak berhenti bertanya. Dari mana muncul warna-warni kilau cahaya bintang itu, lalu bagaimana mereka saling berkaitan tanpa tali, dan dari mana bulan yang melingkar menerangi malam yang semakin larut itu. Lalu malam pun bertanya, bagaimana bisa aku terikat oleh tali-tali transparan yang kini melilit hatiku, bagaimana aku bisa merasa begitu bahagia ketika hatiku merasakan sakit, lalu dari manakah aku bisa membuat kenangan sendirian seperti malam itu. Ya Tuhan, kenapa pertanyaanku jadi sekonyol itu.

Aku bergumam sendiri. Membayangkan hal-hal yang aku harapkan esok hari. Ya Tuhan, oh ibu, maafkan aku karena seegois ini.

 

To Be Continue….

Author’s Comment :

Di chapter kedua, seperti waktu di awal. Bahwa kita di bawa ke masa lalu. Untuk memperlihatkan sedikit atau mungkin banyak asal muasal perasaan itu menjadi rasa sakit untuk Jessica. Bagaimana ia yakin dan ragu dengan harapan-harapan yang diberikan Luhan.

Okay thanks for yall. Jangan lupa R&R ya guys. Gomawoyo!

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Guess The Sunset – Chapter 2 ( For Not You Know)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s