Guess The Sunset – Chapter 3 (I Don’t Understand)

 

 

Author : Nurisya

Title : Guess
The Sunset, I Don’t Understand

Cast :

Jessica Jung / Lee Seoyeon Girls’ Generation

Xi Luhan EXO

Im YoonA Girls’ Generation

Kris EXO

Another Cast :

Jessica’s Eomma

Lay EXO

Kai EXO

Chen EXO

Chanyeol EXO

Hyoyeon Girls’ Generation

Victoria f(x)

Genre : Sad, Romance

Length : Multichapter

A/N : Anyeong! Danger! Casts are milik keluarga. Cerita milik author. Oke gais, hehe. Bertemu lagi dengan author rada gila yang suka berhayal ini.#mulailebai #forgetit. Saya tidak mau bertele-tele di chapter ketiga ini. i just wanna say…..

 

`HAPPY READING`

 

 

Ya Tuhan, bahkan kau terlalu baik padaku. Kau masih menghidupkanku lewat semburat kilau mentari yang merambat menembus jendela lalu mengenai tirai biru muda itu dan akhirnya mengenaiku. Silau mengenai mataku. Membuatku berkedip sejanak. Aku masih setengah tidur dengan sedikit air liur yang menetes membasahi bantal. Esok itu, harusnya kamar seorang gadis yang baik itu bersih dan harum. Berhiaskan warna-warna cerah nan menggoda, nyaman untuk ditempati berbanding terbalik dengan kamarku yang seperti kamar pecah. Bantal tergeletak sana-sini, buku berserakan di karpet, beberapa baju tergantung asal di balik pintu. Aku menggeliat pelan, meregangkan sendi-sendi yang masih kaku lalu menguap lebar-lebar. Tak lupa ku tutup dengan tangan agar lebih anggun. Aku menoleh sebentar, melihat jam yang menunjuk pukul enam pagi. Aku kembali menguap, peduli apa dengan jam dan sekolah. Nyawaku belum sepenuhnya terkumpul karena beberapa masih asik mengarungi dunia mimpi dan kejadian semalam.

Ya aku masih ingat. Setelah aku membuat kenangan dengan diriku sendiri malam tadi aku benar-benar telah membasahi kertas-kertas kosong itu. Menuliskan sebait luka yang mungkin suatu saat takkan berbekas di kertas tersebut namun akan selalu berbekas di hatiku. Bagaimana aku mengalami mimpi buruk itu, dia yang bergandeng mesra dengan gadis beruntung itu. Merangkai mimpi-mimpi mereka berdua di bibir pantai lalu ia berbalik dan melambaikan tangannya. Seketika di tanganku sudah tercantum nama mereka berdua di atas sebuah amplop. Ya Tuhan, kenapa sepagi ini aku sudah tergesa-gesa menceritakan mimpi menakutkan itu.

Aku bergumam melihat kondisi kamarku. Peduli apa dengan semua ini. aku beranjak ke dapur mencari sosok setengah gemuk itu yang biasa sedang menyiapkan sarapan pagi untuk aku dan ayah. Napasku masih berbau dan rambutku masih berantakan. Aku belum mandi namun ibu dengan tulus beranjak dari aktifitasnya lalu memelukku hangat. Aku tersenyum datar. Tak terlalu menanggapinya hanya langsung duduk dan menanti sajian masakan ibu. Ayah juga datang, ia sudah rapi dengan pakaian sederhananya. Rencananya ia akan pergi ke pasar untuk membeli beberapa alat perkebunan dan juga pupuk. Ayah tersenyum mencium kening putrinya, lagi-lagi aku hanya tersenyum datar. Dan lihat lah Tuhan, betapa kau adil dengan semua umat-Mu. Ibuku benar-benar memahamiku luar dalam. Ia tersenyum menatapku lalu memberikan anggupan menandakan bahwa semua akan baik-baik saja, tak perlu ada yang aku takutkan. Tapi lihat lah aku yang hanya menghela napas lalu tertunduk tak bertenaga. Tak kuat menerima kenyataan. Bagaimana nanti di sekolah?

Malangnya aku. Ayah telah berangkat dengan mobilnya dan hanya berpesan agar aku hati-hati ketika berangkat ke sekolah. Bagaimana bisa aku hati-hati jika pagi itu saja aku malah terbaring lemas di atas tempat tidur. Untuk bangun saja aku tak kuasa, kepalaku serasa bisa berputar-putar sendiri, badanku menggigil kedinginan tapi terasa panas, seakan ada sesuatu yang tertahan di tenggorokanku. Napasku tersengal seperti sudah di ujung maut. Tangankku gemetar tak kuasa untuk diangkat sebentar. Bahkan hanya untuk mengambil segelas air hangat yang ibu taruh di bangku dekat tempat tidurku. Tanganku tak dapat menjangkaunya, yang ada malah membuat pecahan belingnya berserakan menjadi ancaman untuk aku yang bertelanjang kaki. Aku menghela napas berat. Pundakku pun terasa teramat berat begitu pula dengan hatiku.

Pagi itu tak ada yang mengetahui bagaimana keadaan. Hanya Tuhan yang melihatnya. Dan tentunya ibu.

 

***

 

Pukul tiga sore. Aku memang sudah terbangun dari empat jam yang lalu. Hanya saja aku terlalu lemah untuk sekedar bergerak, menoleh sedikit saja kepalaku sudah merasakan sakit. Ibu setiap tiga puluh menit sekali mengganti kompresan. Ia juga tak henti-hentinya menanyai keadaanku. Ia selalu mengelus tanganku lalu tersenyum semampunya meski hatinya sedih melihat putri semata wayangnya ini tak berdaya. Ia selalu berusaha bersikap sekuat mungkin di depanku.

Ayah juga tak henti-hentinya bertanya pada ibu lewat telepon. Menanyakan keadaanku apa aku sudah membaik, sudahkan aku meminum obat dan tidur cukup, apa perlu aku dibawa ke dokter spesialis. Ya Ayahku memang tak terlalu dekat denganku karena ia terlalu sibuk mengelola perkebunannya dan pekerjaannya sebagai seorang guru. Tapi bukan berarti ia lalai denganku. Tahukah? Bahwa setiap hari ayah selalu menanyakan aku lewat ibu dan itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan seberapa besar kasih sayangnya padaku.

“Sayang, ini, dari tadi berdering.”

“Terima kasih eomma.” Jawabku lemah.

Ibu tersenyum lalu mengelus rambutku sebentar hingga ia menjauh dan lenyap di balik pintu kamarku. Aku menatap sebentar telepon genggamku kemudian menghela napas sejenak. Dadaku terasa sesak dipenuhi oleh rasa penasaranku seharian ini. aku menghela napas lagi. Mataku tertarik oleh sesuatu. Jendela kamar yang sengaja ibu buka dari tadi siang ternyata bermanfaat juga. Jendela itu tertuju ke taman belakang rumah. Isinya tumbuhan-tumbuhan berbunga yang tertata rapi dekat pagar tembok. Sore itu masih terlihat awan berwarna putih dengan langit yang sempurna berwarna biru cerah. Aku tersenyum seadanya. Ya Tuhan kau teramat baik bagiku.

Sekali lagi aku menyadari telepon genggamku berdering. Aku menghela napas kemudian mengumpulkan tenagaku. Meraih telepon itu dan membukanya. Lihatlah enam belas kali panggilan dan tiga puluh lima pesan masuk. Kenapa aku sangat egois? hingga mengharapkan ada lima puluh kali lebih panggilan tak terjawab dan ratusan pesan masuk yang belum aku buka.

Aku membuka satu persatu. Rasanya sangat lega karena teman-temanku juga mengkhawatirkanku. Aku sedikit geli saat membaca pesan dari Hyoyeon yang konyol. Tapi aku tahu dia sedang mengkhawatirkan aku karena tak mengabarinya kalau hari ini aku tak masuk sekolah. Chen apalagi, dengan otaknya yang suka menebak-nebak pikiran orang, ia selalu mengait-ngaitkan aku yang tak berangkat sekolah dengan Luhan yang membuatku dilema. Sebenarnya aku merindukan Kai. Siapa kah Kai? Dia adalah temanku. Dia yang suka mengataiku bodoh. Tapi aku paham betul apa maksudnya karena jauh di dalam hatinya dia sangat peduli denganku. Takut-takut jika aku terluka karena cinta. Takut-takut jika kehidupanku tak lagi seindah saat aku belum mengenal cinta. Tapi dia dengan tampang sok jaimnya itu selalu mengutarakan sesuatu yang berlawanan dengan hatinya.

Aku melihat dengan cermat pesan yang masuk. Ya Tuhan kenapa aku selalu berharap lebih? Hanya ada sepuluh pesan darinya yang masuk. Dan aku masih tak percaya itu. Aku kembali melihatnya dan jumlahnya tetap sama.

Luhan : “Kenapa tidak berangkat?”

Luhan : “Kenapa tidak berangkat?”

Luhan : “Kenapa tidak berangkat Sica-ya?”

Luhan : “Sedang apa?”

Luhan : “Apa kau baik-baik saja?”

Luhan : “Apa kau baik-baik saja?”

Luhan : “Kau sedang sakit ya. Cepat sembuh.”

Luhan : “Jessica.”

Luhan : “Selamat sore.”

Luhan : “Cepat sembuh ya.”

Dan ia hanya empat kali meneleponku. Aku menghela napas merasa kecewa.

Maafkan aku senja karena untuk kedua kalinya aku melewatkanmu. Membuatmu merasa teracuhkan olehku yang dulu sangat bersemangat menatapmu dari kejauhan. Menungguimu sepanjang hari lalu menghabiskan waktuku hanya untuk melihat sinar surya yang akan meredup dan bersembunyi dibalik malam.

 

***

 

Aku masih terbaring lemah tak berdaya. Hari itu aku tak berangkat sekolah lagi dan kali itu ibu sudah mengirim pesan pada wali kelasku. Syukur lah karena aku punya teman-teman yang baik. Siang harinya tak ada burung pembawa kabar yang berkicau di siang bolong, tak ada juga kupu-kupu yang singgah di kamarku. Sekitar delapan orang temanku berkunjung hanya sekedar menengokku. Apakah aku sudah sembuh atau belum. Aku terkesima sekaligus terharu tak pernah menyangka sebaik ini mereka padaku. Ya Tuhan tapi kenapa aku terlalu banyak menuntut sedangkan Kau telah memberiku kebahagiaan yang cukup. Kala itu Luhan-aku benar-benar benci menyebut namanya-tak ikut menengokku. Aku sedikit kaget sekaligus kecewa tapi mau seberapa kecewanya diriku itu semua takkan merubah kenyataan. Aku hanya bisa tersenyum seadanya.

Kai menatapku. Kali itu tatapannya begitu hangat. Saat itu aku bisa merasakan sesuatu dalam dirinya yang tak pernah ia perlihatkan di depan kami, terutama di depanku. Jam sudah menunjuk pukul empat sore. Dan yang lainnya satu persatu berpamitan, menyalamiku lalu mengucapkan agar aku cepat sembuh. Sedikit gurauan juga dan itu cukup membantu. Sore itu hanya tinggal Chen dan Kai yang masih terduduk di kursi samping ranjangku. Aku membisu tak ingin membuka pembicaraan. Suasana di antara kami tiba-tiba kaku, begitu canggung. Chen beberapa kali berdehem tapi tak dapat mencairkan suasana.

Angin berhembus menerbangkan tirai yang terkena sinar matahari sore. Masuk menyinari kamarku. Ada dua burung kecil yang hinggap di dahan pohon depan jendela. Aku tersenyum tanggung. Dan entah karena apa, aku seakan terhipnotis. Menurunkan kakiku dari ranjang dan dengan langkah gontai menuju ke jendela. Kai sempat bergerak khawatir. Tangannya sedikit terulur. Aku bisa melihatnya. Tapi ia diam tak jadi mengikutiku dan Chen malah jadi sibuk dengan smartphone-nya gara-gara aku abaikan.

Aku menghela napas sejenak. Mataku menatap nanar segala yang ada di hadapanku semua perlahan menjadi buram dan entah dari mana kepalaku tiba-tiba diterjang rasa sakit. Aku mengerang kesakitan. Tanganku geram memegang kepalaku erat-erat. Kai kala itu ku lihat benar wajahnya yang begitu panik. Ingin menyentuhku tapi paham betul tembok antara kami. Sedangkan Chen malah lari ke sana kemari kebingungan. Ya Tuhan apakah kau marah padaku? Ini sangat menyakitkanku. Andai ia ada di sampingku.

Dan sungguh aku tak ingin seorang pun tahu tentang hal ini. cukup Kau Tuhan, cukup ayah ibu dan kedua temanku, Kai dan Chen. Tolong jaga semuanya serapat mungkin jangan sampai ada celah, jangan sampai ada lubang kecil yang bisa membuat hal ini terkuak hingga semuanya menatapku iba. Sungguh aku tak suka dikasihani.

“Jessica.” Kai tepat membuka percakapan di tengah tembok putih yang sangat aku benci.

“Bilang saja aku sedang berlibur selama beberapa hari dengan orang tuaku.”

Chen terlihat ingin menolak. Wajahnya sudah geram dengan sikapku yang selama ini suka menutup-nutupi kesedihanku. Dan satu hal ini yang juga ku coba untuk ku tutupi dari ia. Malam itu aku ditemani oleh ibu. Chen dan Kai beberapa menit setelah perbincangan singkat kami itu pun memutuskan untuk pulang karena malam sudah terlalu larut.

Ibu seperti biasa tersenyum semampunya sembari mengelus tanganku penuh kasih sayang. Tapi lihatlah, dua wanita yang ia cintai saja bisa tersenyum sedangkan ayah terus saja mondar-mondir seperti orang yang kehilangan kendali. Ia tak bisa mengendalikan pikirannya. Ia pasti kacau dengan perkiraan-perkiraan dokter tadi. Tapi aku sungguh tak apa-apa. Itu hanya sakit kecil yang akan cepat sembuh ayah. Aku sekarang sedang tidak butuh obat dari dokter yang aku butuhkan obat dari orang tuaku agar aku tak merasakan sakit yang tak berobat itu.

“Ya Tuhan bagaimana dengan senjaku sore tadi. Apakah Kau mengarunianya semburat jingga yang sangat indah itu?”

 

***

 

Waktu memang terus berjalan tak pernah berhenti di tempat. Empat bulan berlalu dan kami telah menjalin hubungan selama tiga bulan. Dan aku sempurna menutupi rahasia besar itu begitu rapat. Apakah kalian kaget? Kapan kami bisa begitu dekat dan menyatakan perasaan satu sama lain lalu mengikat hati kami dalam sebuah hubungan sebagai sepasang kekasih. Apa kalian kaget? Bagaimana aku bisa menutupinya.

Tepat setelah bulan ke sepuluh berlalu sekitar seminggu setelah itu. Dia datang dengan menguatkan hati, meyakinkan dirinya bahwa aku adalah pilihan terbaik baginya. Menyatukan semua keberaniannya untuk menyatakan hal itu. Aku benar-benar tersentuh oleh pengakuannya. Ia bersimpuh dengan untaian kata yang bahkan tak indah malah bisa disebut aneh. Dia yang berusaha keras menyampaikannya padaku. Dan aku bisa paham soal itu. Aku tertawa kecil. Sesaat kemudian anggukan kecil pun aku berikan pertanda bahwa aku menerima ikatan cinta itu.

Aku benar-benar tak ingin mengurainya dengan jelas. Aku tak ingin membuka kenangan itu lagi. Karena tahukah kalian selama tiga bulan itu akulah yang harus menahan sakitnya, meringkuk setiap malam di bawah bantal. Menahan sesak. Berusaha agar tak menangis. Membalas pesannya dengan senyuman lalu bilang aku tidak apa-apa. Ya Tuhan kenapa aku sekarang jadi pembohong? Ibu, dia pasti paham dengan maksudku.

Malam-malam aku habiskan dengan rasa pilu. Malam yang bertahtakan cahaya bagiku sama saja dengan malam yang gelap gulita. Aku yang selalu membisu saat ditanya ibu tentang hubunganku dengan ia, Luhan.

Dulu kata cinta itu begitu indah saat diucapkan, aku selalu ingin mendengar kata itu darinya lagi dan lagi. Tapi setelah itu aku hanya merasakan sakit, kata cintanya itu seakan sebuah pisau yang malah mencabik-cabik hatiku hingga tak bersisa. Semua harapan dan impian yang kami buat bersama salama itu seketika musnah. Aku benar-benar telah tak mempercayainya meski aku berbohong dengan mengatakan bahwa aku masih dan selalu mempercayainya. Ya aku sangat hebat untuk berbohong.

Kalian masih ingat. Aku bukan seorang peramal cuaca yang baik. Tapi bukan karena itu, tapi karena cuaca memang suka membohongiku. Membuatku berharap banyak lalu seketika berubah. Membuatku galau dibuatnya.

Dua hari sebelum tahun baru. Aku sempat bertengkar hebat dengannya. Pertengkaran kami hanyalah karena sesuatu yang sangat sepele. Dan betapa berpengaruhnya masalah kecil itu pada hubungan kami. Waktu itu dia benar-benar berubah. Tak pernah memberiku kabar lalu pergi ke mana pun sesuka hatinya. Hatiku kalap. Kala itu aku mendengar desas-desus yang berkembang bahwa ia sedang mengobarkan bara asmara lagi dengan gadis beruntung yang aku sebutkan di awal cerita. Aku benar-benar sedang kalap. Emosiku berkecamuk menghantam benteng kesabaranku dengan amarah. Semua kebahagiaan yang kami bangun selama tiga bulan terakhir hampir saja musnah. Jikalau aku tak segera bangun. Menyadarkan diriku lagi bahwa aku tak seharusnya seegois itu. Meledak-ledak hingga ia ternganga kaget dengan sikapku. Bukankah cinta tidak banyak menuntut tapi banyak-banyak memberi.

Sudah lah. Sejak awal aku sudah bilang aku takkan menceritakan semuanya. Cukup aku dan Tuhan yang tahu. Juga ibuku. Tapi tidak untuk yang satu ini. aku harus mengurainya sejelas mungkin.

Dan hari itu adalah satu hari sebelum tahun baru. Kami menghabiskan waktu seharian. Menyisiri jalanan kota berdua. Mendengarkan gurauan tanggungnya yang selalu membuatku terpingkal. Lalu menikmati tangan besarnya selalu menggenggam tanganku membuatku merasa selalu terjaga jika ada di sampingnya.

“Sica-ya.”

Aku menoleh. Senyumku memudar. Ia tersenyum lalu mendekat membisikkan kata-kata itu lagi.

“Aku mencintaimu Sica-ya. Jangan tinggalkan aku ku mohon.”

Aku bergidik, darahku berdesir hebat, jantungku berdetak begitu cepat, aku mulai melambung. Dia memberiku harapan itu lagi tanpa sengaja ia membuatku mencari bagian-bagian yang terpecah untuk merangkai lagi kepercayaan itu. Dan bunga-bunga yang telah layu pun perlahan mulai hidup dan akan segera mekar.

“Aku juga mencintaimu.” Jawabku tersenyum padanya.

Aku menghela napas. kami tiba di lampu merah. Aku sedikit bernapas lega karena pemikiran gila itu tiba-tiba lewat begitu saja sehingga refleks aku melepas genggaman tangannya. Ya Tuhan bantu aku mengendalikan diriku. Aku menoleh sebentar ke luar kaca jendela mobil agar aku sedikit banyak bisa mengendalikan perasaanku. Dan oh Ibu lihatlah putrimu yang tak pernah mau berkhianat ini melihat seseorang yang dulu pernah menghiasi masa lalunya.

Cinta pertamaku. Cinta yang dulu aku simpan begitu dalam dan tak pernah seorang pun bisa menggantikannya. Aku yang bertahun-tahun menahan luka. Selalu menunggu kabar darinya dan menari-nari dengan riangnya saat ia mengirim pesan padaku meski itu hanya sekedar ucapan basa-basi.

Saat itu sungguh aku tak menyangka Tuhan. Mata kami saling bertemu dan terdiam begitu lama. Mencari-cari apakah masih ada perasaan itu? Tentu saja tidak. Bagiku dia adalah kenangan. Kenangan yang indah untuk dikenang meski nyatanya menyakitkan. Tapi tatapannya itu, tatapan penuh harapan yang dulu ada padaku kini berbalik padanya.

Siang itu begitu terik. Aku berpeluh dan itu menjadi alasan agar aku bisa memalingkan wajah darinya. Mengambil tisu dengan mengelapkan di sekitar wajah. Aku menghela napas dan Luhan melihat wajahku yang gugup berkeringat.

“Kenapa?” tanyanya heran melihatku kelabakan sendiri.

“Panas sayang. Lihat sudah hijau.” Dan aku hanya mencoba untuk bersikap setenang mungkin seakan tak terjadi apa-apa.

Dan sungguh setelah itu. Setelah kuceritakan kejadian tadi padanya ia jadi berubah. Aku juga berubah karena telah melupakan sejanak senjaku yang dulu selalu aku nantikan kehadirannya. Ya Tuhan kenapa aku jadi seperti ini? kenapa ceritaku semakin lama malah membuatku tak terkendali.

 

***

 

Pagi yang aku tunggu pun datang karena aku jadi benci malam. Karena malam itu sering membuatku meringsuk di bawah bantal. Membuatku teringat sakit yang selama ini aku rasakan. Dan malam tadi aku menghabiskannya sendiri tanpa ucapan selamat tidur darinya tanpa perhatiannya juga. Ah, Aku jadi teringat dengan pertengkaran kami kemarin. Aku menghela napas. Kembali berharap bahwa beban di pundakkan sedikit demi sedikit akan menghilang. Sudahlah aku tak ingin mengingatnya lagi.

Aku masih lemas meski tak selemas hari kemarin. Setidaknya aku sudah kuat untuk berdiri dan melakukan aktifitas seperti biasa. Pagi itu karena masih hari libur aku hanya duduk bersantai di teras belakang rumah yang kebetulan terbasuh oleh air hujan. Oh iya hatiku juga ikut terbasuh oleh luka. Masih sepagi ini aku sudah merasa sesak lagi. Karena pagi ini hujan tak ada sepasang burung kecil yang hinggap di rantai pohon depan teras. Suara gemricik air kolam juga menyatu dengan deras air hujan. Tumbuhan mengglambir tak kuat menahan guyurannya. Tanah di taman yang semula kering pun tergenang air berubah menjadi lumpur berwarna coklat pekat. Dan udara pagi juga terasa lebih dingin. Jadi aku terus menerus merapatkan jaket.

Ibu datang membawa secangkir cokelat hangat. Ia masih mengenakan celemek. Ia tersenyum ramah seperti biasanya meski paham betul bagaimana perasaanku saat itu. Aku menghela napas sejenak. Lalu menoleh ke samping mencari remote televisi. Aku juga meraih sebuah majalah milik ibu yang tergeletak sembarangan di karpet. Pagi ini aku benar-benar sedang malas. Malas juga membahas soal yang kemarin. Meski, Ya Tuhan dia terus mengirimiku pesan, beberapa kali meneleponku tapi aku tak menghiraukannya. Aku jauh lebih egois lagi. Tapi aku tahu Kau paham denganku Tuhan. Aku hanya ingin menenangkan diri. Menjauhkan rasa sakit dan sabarku yang terasa akan habis.

Apa kalian tahu? Di kisah ini aku sudah berkali-kali disakiti meski tak kujelaskan dengan rinci, meski tak ku uraikan lewat tulisan. Dia benar-benar jauh lebih jahat dari aku. Bohong jika dia polos. Ia terlihat seperti pria yang baik dan mengasihi wanita di sekitarnya. itu Bohong! Bukan kah benar semua perkataan para penulis besar? Bukan kah kita akan jauh lebih bahagia dengan orang yang mencintai kita? Lalu bagaimana mengenai ilusi kebahagiaan yang kita buat sendiri dengan orang yang kita cintai? Itu hanyalah tipuan yang kita buat sendiri tapi sama sekali tak rasional, bukan? Dan benar kata penulis-penulis besar hal seperti itu hanya akan membuat kita patah hati. Dan aku adalah salah satunya.

 

***

 

Aku masih teringat saat itu. Umurku baru enam tahun. Dan tahu apa anak usia enam tahun tentang perasaan cinta itu? Yang aku tahu saat itu hanya lah bermain, bersenang-senang, bersikap manja, merengek-rengek, dan apalah itu yang dilakukan anak usia enam tahun. Asal kalian tahu, di waktu itu aku selalu mengikuti seorang anak laki-laki yang empat tahun lebih tua dariku. Dia sangat jauh berbeda dengan anak laki-laki seumurannya yang suka bermain dengan mobil-mobilan atau robot tiruan. Dia bahkan tak suka dengan mainan seperti itu. Dia lebih banyak diam. Duduk di atas gundukan pasir. Melamun. Menatap butiran pasir berwarna abu tua tersebut. Aku saja yang suka menganggunya. Menanyainya banyak hal. Padahal ia sama sekali sedang tidak ingin diganggu.

Di kala kecil, aku adalah seorang anak perempuan yang sangat pemalu. Aku membenci keramaian. Benci bertemu dengan orang-orang asing. Selalu bersembunyi di balik tubuh ibuku yang dulu masih terlihat langsing. Hanya saja saat aku bersama dengannya, aku menjadi seorang Jung Jessica yang lain. lebih banyak tertawa dan tentunya lebih banyak bertanya. Tapi seperti biasa. Ia hanya menatapku lalu memalingkan wajahnya lagi. Tahu apa anak umur enam tahun dengan perasaan cinta itu? Aku tak pernah bosan untuk mendekatinya. Entah mengapa aku sangat suka jika berada di sampingnya. Wajanya dingin tapi dia sangat tampan.

Kala itu, aku tak ingat betul kejadiannya kapan. Tapi aku tahu di sore hari kala senja menampakkan semburat eksotis di angkasa nun jauh. Semburat jingga sempurna membelah lautan di depan kami. Saat itu suasana pantai kota kami mulai lengang. Hanya ada satu dua pasang kekasih yang ingin menghabiskan saat-saat romantis tersebut. Tapi tahu apa anak usia enam tahun tentang hal-hal seperti itu? aku duduk di sampingnya. Tersenyum begitu lebar. Menatapnya begitu polos lalu mulai bertanya banyak hal. Tapi seperti biasa ia hanya diam menatapku kosong lalu kembali menerawang pikirannya sendiri. Tak berselang lama setelah aku lelah untuk berceloteh di sampingnya. Aku ikut terdiam. Takjud melihat pemandangan di depan. Gerombolan burung sempurna menghiasa langit sore kala itu. seakan mereka terkurung dalam lingkaran merah merkah yang begitu besar. Matahari akan tenggelam dengan sempurna. aku terpaku. Takzim melihat pemandangan di depanku.

“kenapa sore ini sangat indah ya?” tanya ku polos. Mengedip-ngedipkan bulu mataku. Lalu tersenyum polos lagi saat ia menatapku.

“Jessica. Asal kau tahu aku sangat benci dengan suaramu.” Jawabnya polos. Aku geli sendiri mengingat kejadian sore itu.

“Kenapa?”

“Karena kau terlalu polos.” Aku mengedip-edipkan lagi bulu mataku yang lentik. Ah, Jung Jessica kan masih kecil dia memang benar-benar polos. Tidak dibuat-buat seperti sekarang.

“Senja indah dan membuat hatiku dingin. Ibu suka membawaku ke sini sebelum ayah meninggal dunia.”

Oppa..” Sahutku kala itu dengan nada bersalah. Ya Tuhan, bukan kah dia punya masa lalu yang menyakitkan. Tapi tahu apa anak usia enam tahun tentang rasa sakit itu?

“Apa oppa merasa sakit?”

Ah, pertanyaanku yang itu benar-benar sangat bodoh.

“Kenapa kau banyak bertanya sih?” Tanyanya sinis. Lalu memalingkan wajah. Aku bahkan tak merasa diacuhkan tetap saja duduk di sampingnya. Tersenyum. Bukan kah sangat romantis. Duduk berdua menghabiskan waktu di senja hari. Lalu berbicara tentang hal-hal yang lebih pribadi. Dan bayangan kami yang menyatu terlihat begitu serasi. Tapi tahu apa anak usia enam tahun tentang keserasian itu?

Lazimnya yang diketahui anak usia enam tahun adalah bersenang-senang. Bertanya banyak hal yang membuatnya penasaran. Bermain dengan teman-temannya. Dan itulah aku lakukan saat bersama Kris, cinta pertamaku. Tidak dengan teman-temanku yang lain. Aku hanya akan diam. Membisu. Takut untuk bersitatap. Sering-sering bersembunyi di balik tubuh langsing ibuku.

 

To Be Continue….

 

Author’s Comment :

Apalah yang bisa Jessica lakukan ketika keraguan itu datang padanya. Dia mungkin punya banyak hal yang harus dipertimbangkan, hingga ada saat di mana ia harus terluka. Maka ia pun ‘tidak paham’ maksud semua itu. Lalu masalah yang bertubi-tubi menimpa hubungan mereka membuat Jessica tak punya tenaga. Sebenarnya, menurut saya Jessica sangat malang nasibnya. Kenapa? Just think it guys.

Gomapseumnida. Thanks for all readers. Please give your commentsJ

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s